Iwok Abqary Menulis Novel King dalam Lima Hari

Kisah Dibalik Penulisan Novel King
 
| Pesta Buku Jakarta 2009

Novel adaptasi dari film King ternyata ditulis dalam waktu lima hari. Uups, benarkah?
 
Inilah novel adaptasi pertama yang ditulis Iwok: King. Sebuah novel yang diadaptasi dari film King yang sedang diputar hampir di semua bioskop Indonesia. Iwok Abqary menceritakan proses kreatif pembuatan novel ini kemarin (Minggu, 05/07) di talkshow Stan Kelompok Agromedia, Pesta Buku Jakarta 2009.

Mulanya novel King ini ditulis dalam waktu lima hari. Namun, ternyata pihak produser dari Alenia menolaknya. “Awalnya saya sok tahu. Saya mengira antara skenario dan film itu sama persis. Pada kenyataannya antara skenario dan film banyak yang berbeda,” jelas Iwok.

Saat revisi novel yang ketiga, Iwok menonton film yang masih draft di kantor Alenia Picture.  Tuntutan dari produser, novel harus ini dibuat persis seperti dalam gambaran film tersebut. Seperti penggambaran adegan, karakter, dan penggambaran suasana padang rumput savana di Banyuwangi  dan kawah Ijen. “Salah satu ciri khas dari film-film Alenia adalah penonjolan pemandangan keindahan Indonesia,” ujar penulis Gokil Dad.
Setelah diskusi ketat dan menonton film yang belum jadi pun ia lakoni, akhirnya sebulan persis novel ini kelar dan diterbitkan Gradien Mediatama.

Novel King adalah sebuah novel adaptasi yang ditulis berdasarkan spirit dari Liem Swie King, pejuang bulutangkis Indonesia. Dalam novel ini Anda diajak bertemu dengan kehidupan Guntur yang digembleng oleh ayahnya agar bisa menjadi seorang pemain bulutangkis layaknya Liem Swie King.

Bukan hanya itu, novel ini juga perkisah tentang persahabatan, cinta, dan  hubungan anak dan orangtua.

***
Lalu apa bedanya menuliskan cerita sendiri dengan menulis novel seperti ini? “Bedanya menulis novel ini kita dibantu dengan alur cerita dan penokohan yang sudah ada. Yang menjadi tantangan, apa yang dituangkan  novel ini harus dibuat persis seperti film,” jawab Iwok.

Talkshow yang dipandu Bastian Elmori Tobing ini adalah talkshow terakhir yang digelar di panggung Stan Kelompok Agromedia, Pesta Buku Jakarta 2009. Antusiasme pengunjung terlihat saat meminta tanda tangan dan foto bareng bersama penulis yang telah menelurkan 26 buku ini.

Franklin Darmadi

Franklin Darmadi, sutradara muda berbakat yang film perdananya “Ekspedisi Madewa” (2006) cukup menakjubkan, dipercaya oleh Shambala Pictures untuk menyutradarai film "Medley". Film ini rencananya akan tayang pada 22 November dan novel adaptasinya akan diterbitkan oleh Gradien Mediatama. Untuk mengenalnya lebih jauh, berikut ini kami petikkan beberapa poin bincang-bincangnya dengan Indosinema.
Apa yang baru dari “Medley” dibanding film kamu sebelumnya?
Jika film pertama saya “Ekspedisi Madewa” adalah film action, maka “Medley” merupakan film drama. Itu saja. Masa syuting lebih pendek. Ceritanya tentang lelaki mapan dan berpengalaman dalam hidupnya, hingga suatu saat menemukan situasi yang membuatnya berpikir tentang kemungkinan lain, tentang alternative life. Suatu kisah yang sangat dekat dengan semua.

Tantangan terberat membuat film drama?
Men-develop karakter, terus sebuah cerita yang terlihat simpel tapi bagaimana memvisualisasikannya sehingga idenya tidak hilang.

Pengalaman apa yang kamu dapat waktu men-direct aktor senior Alex Komang?
Franklin: Buatku pertama suatu kehormatan. Mas Alex, banyak kerja sama, membantu akting coach…asyik-asyik saja. Tidak mengalami kesulitan ataupun hambatan.

Kenapa melibatkan Alex, ada pertimbangan tertentu?
Meskipun dari awal saya sudah membayangkan peran ini untuk Alex, tapi tetap semua melalui kasting, dan Alex ternyata cocok seperti dugaan saya semula.

Kalau Yosi?
Yosi punya kapabilitas secara intelektual dalam menafsirkan naskah.

(Sumber: www.medleymovie.blogspot.com)