Di Balik Kisah Seorang Gadis Call Center

Apa yang diharapkan seorang mahasiswi selepas kuliah? Mendapatkan pekerjaan mungkin salah satunya. Hal ini juga yang dilakukan oleh Madison Lee. Ketertarikan Maddy terhadap dunia media massa mengarahkan langkahnya untuk segera mencari kerja di bidang tersebut.

Sayangnya, kenyataan berbicara lain. Surat lamaran yang ia kirimkan lagi-lagi tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya Maddy harus rela melepaskan keinginannya berkarier di media massa dan menerima lowongan sebagai seorang gadis call center.

Sebenarnya, tidak ada yang aneh atau salah dengan menjadi gadis call center. Namun, Maddy harus berjuang keras untuk bisa beradaptasi dan menerima beragam kejadian dalam dunia customer service ini.

Sebagian dari kita mungkin menganggap bahwa kegiatan yang dilakukan call center hanya sebatas duduk dan menerima telepon. Nyatanya tidak demikian. Setidaknya bagi Maddy, dunia customer service cukup liar, aneh, dan sering kali menyebalkan.

Di Lightning Speed call center—tempat Maddy bekerja—penjualan lebih membanggakan daripada layanan dan delapan jam kerja berarti delapan jam menerima telepon yang sukses memporakporandakan emosinya.

Meski demikian, ada sisi positif yang juga ia dapatkan dari tempatnya bekerja itu. Salah satunya adalah cinta. Perlahan tapi pasti, getar asmara mulai menyusup ke dalam hati Maddy berkat kehadiran seseorang bernama Mika Harket.

Bagaimana kisah Madison Lee selanjutnya? Temukan jawabannya dalam novel Confessions of a Call Center Gal yang ditulis oleh Lisa Lim. Novel terjemahan yang diterbitkan oleh Gradien Mediatama ini akan membawa kamu ke dunia call center yang norak sekaligus menyenangkan, kejam sekaligus mengasyikkan. Belum lagi kisah cintanya. Membuatmu ikut merasakan getar-getar yang tidak akan terlupakan.
 

Terima kasih sudah melepaskan

dipaksa rela