Humor dari Dunia Pergigian

 
 
Anak-anak akan membuang gigi ke atas genting rumah bila gigi bawah pertama tanggal. Membuang gigi ke tanah, bila gigi atas tanggal. Ehh..kebalik ga nih?! Tapi itulah ritual masa anak-anak saat berurusan dengan gigi yang tanggal. Entah berbau takhayul atau bukan, yang pasti merupakan saran sebagian orang tua dulu. Kabarnya bila tak melakukan hal itu, giginya nggak tumbuh. 😛

Ada lagi yang tak kalah seram soal gigi. Jika seorang mimpi gigi geraham tanggal, maka kabarnya akan ada  saudara yang meninggal atau akan tertimpa musibah. Wuuh..ngeri bukan tafsir mimpi ini.

Ini masih soal dunia gigi, bila sakit gigi: gigi berlubang, hingga bikin kepala pusing, dengan terpaksa tentu kita akan ke dokter gigi. Bagi kebanyakan orang, berkunjung ke dokter gigi adalah hal yang menyeramkan. Cabut gigi sakit nggak? Dibor sakit nggak? Pertanyaan klasik ini kerap muncul saat mau periksa di dokter gigi. Lalu apa jawab dokter gigi secara serempak, “Ya, kalau sakit nggak bakal ada lagi orang yang ke dokter gigi.”

Nah, bayangan saya soal profesi dokter gigi itu soal keturunan. Ya, seperti halnya dukun-dukun tradisional ataupun penjaga makam. Lha kok bisa. Di kota kelahiran saya, ada dua dokter gigi yang berkarir mengikuti jejak bapaknya. Ya sayangkan sudah punya ruang praktik bila tak digunakanDari dua kasus itu terekam awet dibenak saya hingga hari ini.

Terlepas dari soal profesi yang menurun, ada sebuah buku berjudul ga-gi-gu GiGi. Buku ini berisi semacam memoar gokil seorang mahasiswa kedokteran gigi. Latar kisahnya berlokasi tak jauh dari fakultas kedokteran gigi tentu, juga klinik dan para pasien yang menjadi “kelinci percobaan” dari Lia Indra Andriana, penyusun buku bersampul hitam ini.

Ada kisah menarik soal bapak berkumis yang harus dicabut giginya. Kecurigaan muncul ketika secara bergantian mahasiswa yang sedang praktik di klinik gagal mencabut gigi Pak Kumis ini. Bahkan para senior mahasiswa kedokteran gigi turun tangan, namun tetap saja upaya mencabut gigi gagal. Maka di tengah kebuntuan, seorang mahasiswa ada yang iseng bertanya, “Apakah bapak sudah melepas jimat?” Pak Kumis pun menjawab tanpa ekspresi, “Aduh..iya.. kok lupa.” Langsung saja Pak Kumis melepas sabuknya. Saat dicoba lagi, sekali tarik gigi bandel Pak Kumis pun sukses tercabut.

Ada 30 lebih kisah-kisah humor yang dikumpulkan Lia dalam buku ga-gi-gu Gigi ini. Yang pasti buku ini mengajak kita berkunjung ke dunia pergigian dalam suasana berbeda dan penuh guyonan..Oya ga-gi-gu Gigi ini diterbitkan Gradien Mediatama. Selamat ngakak!
 

booktalk jakbook festival