Kesaksian Seorang Blogger di Bordes Kereta Api

 
Perjalanan di atas kereta api bisa jadi hal yang istimewa bagi sebagian orang. Sebab ada banyak aneka peristiwa yang bisa ditemui. Terutama bila mata kita tergiring pada pemandangan di luar jendela yang silih berganti berubah. Apalagi sembari berkhayal sesuatu. Bayangkan itu slide film yang terus berjalan.

Pilihan naik kereta api juga bisa terasa asyik bagi yang kurang menyukai perjalanan di atas bis. Sebab perjalanan naik kereta lebih sedikit guncangan ketimpang bis dan naik kereta kan anti mual.

Namun, keasyikan naik kereta api akan berbeda saat kita naik kereta api ekonomi dengan jarak jauh, misalnya Jakarta – Surabaya. Gerah, panas, sumpek, dan dipadati aneka tukang jualan dan aroma bau badan. Bahkan bila Anda terpepet, berdiri atau duduk di bordes (dekat sambungan gerbong) akan menjadi pilihan. Seperti kisah Faisal saat ‘disiksa’ di kereta api ekonomi.

Ketidakberuntungannya menghampiri Faisal saat ia harus duduk di bordes tepat depan pintu toilet. Tentunya duduk di dekat sambungan kereta bukan prioritas pertama. Sesak dan padatnya jumlah penumpang membuat Faisal memilih pasrah duduk di tempat beraroma toilet dan kerap kali di langkahi kaki pedagang asongan. Bahkan di sebelahnya seorang bapak membawa ayam. Apa boleh buat, Faisal tetap harus sampai Surabaya, walaupun punggung, kaki, dan bokongnya pegal-pegal duduk di lantai bordes.

Bersama belasan kisah nyata lainnya yang bisa kamu simak di buku Ijo Anget-anget, Faisal menggambarkan detail suasana kereta dan nasibnya saat naik kereta ekonomi. Inilah kenangan yang terus teringat dalam memorinya. Cerita konyol, sedih, dan gokil lainnya adalah kumpulan 15 pengamalan gokil dari Komunitas Blogger Makassar: Angingmammiri. Buku Ijo Anget-anget ini diterbitkan oleh Gradien Mediatama.

 

Terima kasih sudah melepaskan

dipaksa rela