Mengenang Mula Harahap Lewat Buku

Sederhana, Lucu, dan Inspiratif

Tulisan ini tak sekadar sebagai pengenang dan penawar rindu pada sosok Mula Harahap yang meninggal dengan damai, pada Kamis, 16 September 2010. Kira-kira sekadar review dan apresiasi pendek mencoba diberikan untuk tulisan-tulisannya yang baru saja dibukukan dengan judul Ompung Odong-odong. Tulisan-tulisan dalam buku terbitan Gradien ini diadopsi dari blog-nya yang ia metaforakan sebagai tempat ziarah.

Mungkin Anda kenal dekat dengan nama Mula Harahap? Atau setidaknya pernah mendengar namanya. Namanya memang familiar dan mudah diingat. Bagi yang akrab dengan dunia penerbitan dan perbukuan Indonesia, nama ini tidaklah asing. Terlebih lagi bagi yang sering bersinggungan dengan institusi IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia).

Beliau dikenal mahir dan menguasai isu dunia editologi dan penerbitan buku. Sepintas soal ini, Anda bisa mengintip dari tulisan-tulisannya di blognya, semisal tentang “Editing Naskah Buku Umum Non-Fiksi.” Termasuk soal polemik di dunia perbukuan, seperti dalam tulisan “Kemelut dalam Industri Penerbitan Buku Sekolah.”

Terlepas dari seputar industri perbukuan, ia pun banyak menuliskan hal-hal sederhana yang tidak kalah seru dan menarik. Saya lihat Bang Mula selain sebagai penutur cerita yang fasih, ia pun seorang dokumentator kisah yang detail dan baik. Saya menduga hampir semua peristiwa yang beliau lihat dan renungkan, ia dokumentasikan dalam sebuah tulisan.

Temanya pun tidak sedikit yang membuat kita terbahak dan kocak. Sebutlah satu kisah saat Mula Harahap menumpang becak di Medan. Saat melewati patung polisi, si tukang becak berkomentar, “Dulu itu adalah polisi yang suka ngompas. Lalu dia kena sumpah dan jadi batu. Mampuslah dia….”

Judul Ompung Odong-odong diambil dari sepenggal kisah yang berisi tulisan seputar cara kreatif beliau menidurkan Gisella, cucunya. Setiap kali mengantarkan tidur cucu tersayangnya, sembari menggendong beliau menyanyikan aneka lagu. Ya, itu dilakukan berulang kali bak “odong-odong” yang menyuarakan lagu anak-anak. Maka Gisella dan ibunya, beliau dipanggil sebagai “Ompung Odong-odong.”

Ompung tidak saja fasih bercerita dalam bahasa lisan. Ia pun mahir merangkai cerita dalam tulisan. Selain itu, seperti kata Jansen Simano dalam pengantar buku ini, Mula Harahap adalah pencerita ulung, bukan pria biasa, seorang motivator, dan ia banyak membuat orang tertawa dengan kisah-kisahnya. Bahkan tak jarang ia mengakhiri cerita dengan ending yang menggelitik, sekadar membuat tersenyum, dan terharu.

Gaya bertutur yang sederhana dan mengalir nampak jelas terlihat dalam tulisan-tulisannya. Kira-kira gaya berceritanya tak jauh berbeda saat beliau bercerita langsung dan saat ia menulis. Dalam buku setebal 342 halaman ini banyak kisah yang dituliskan apa adanya tanpa mengundang rasa bosan saat membacanya. Menggambarkan apa adanya yang ada di sekitarnya, baik itu perkara perenungan atau sekadar menceritakan ketika beliau membalas gertakan orang di bandara Polonia, Medan.

Tentang sosok perawakannya almarhum, mudah sekali dikenali. Beliau dikenal dengan perawakan tinggi dan berambut gondrong sebahu. Tentang cara ompung berpakaian Anda bisa menyimak tulisan “Cara Berpakian Saya”. Dalam tulisan ini beliau merasa nyaman dan percaya diri apabila memakai kemeja berwarna biru, berlengan panjang, celana berwarna hitam, dan tidak pernah bisa memakai celana baggy. Yang jelas masih banyak lagi tulisannya yang disusun dengan detail, sederhana, dan mengalir. Itulah kira-kira cara Mula Harahap menggambarkan dirinya. Menggambarkan suatu yang detail soal dirinya dengan bahasa yang sederhana dan biasa.

Buku ini tidak sekadar sebagai pengenang kiprah Ompung dan tulisan-tulisannya. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari cara ia menyajikan tulisan dan memberi makna serta warna pada kehidupan. Dari buku ini pula, kita mengenal juga Mula Harahap dengan atribut kesederhanaan yang menempel pada dirinya. Selamat jalan Bang Mula.

 
 

Terima kasih sudah melepaskan

dipaksa rela