Yuk, Hadir di Live Session & Tanda Tangan Buku Terbaru dari Reza Mustopa! ✨

artikel reza mustopa

Buat kamu yang tumbuh dengan sosok “bapak” yang masih ada secara fisik, tapi terasa jauh secara batin—buku ini ditulis khusus untukmu.

Tentang Buku

Salahkah Aku Berduka untuk Bapak yang Masih Ada? adalah buku terbaru karya Reza Mustopa, penulis empat buku sebelumnya terbitan Gradien Mediatama. Buku ini mengangkat tema kehilangan yang tidak selalu lahir dari kematian—melainkan dari kehadiran seorang ayah yang tak lagi terasa sebagai tempat pulang. Cerita ini relate untuk kamu yang tumbuh dalam keluarga broken home, menjadi yatim pasif (masih punya sosok ayah tapi tidak merasakan perannya), dibesarkan oleh nenek atau anggota keluarga besar lain, atau anak kecil yang dipaksa dewasa oleh keadaan.

Ditulis dalam format cerita naratif yang berkesinambungan dari bab awal sampai akhir dan diselingi prosa pendek yang quotable, buku ini juga dilengkapi ilustrasi yang menambah estetika serta halaman aktivitas untuk journaling dan refleksi diri—cocok untuk pembaca yang mencari buku self-improvement seputar relasi dengan orang tua.

“Selama ini aku merasa menjadi yatim perasaan. Bukan karena Bapakku telah tiada, tetapi karena aku tumbuh tanpa benar-benar merasakan kehadirannya… Kadang, duka lahir ketika seseorang masih ada, tetapi kehadirannya tak lagi terasa sebagai tempat pulang.”

Spesifikasi Buku

Detail Informasi
Judul Salahkah Aku Berduka untuk Bapak yang Masih Ada?
Penulis Reza Mustopa
Penerbit Gradien Mediatama
Kategori Self Improvement (Family Series)
Ukuran 13 x 19 cm
Tebal 164 halaman
Harga Rp87.000
Terbit Agustus 2026
Edisi Khusus Edisi TTD (tanda tangan penulis) + bonus spesial

Jadwal Live Session & Tanda Tangan Buku

📅 Hari, Tanggal: Sabtu, 15 Agustus 2026 🕙 Waktu: 10.00–16.00 WIB 📍 Lokasi: Percetakan Sarana Kata Grafika, Jln. Suci/Industri No. 44, RT.08/RW.03, Kel. Susukan, Kec. Ciracas, Jakarta Timur

Live session juga disiarkan lewat TikTok di lima toko buku berikut, masing-masing dengan sesi khusus bersama Reza Mustopa:

  • Naraloka Patra — pukul 10.00–10.45 WIB
  • Pragyaloka — pukul 11.00–11.45 WIB
  • Republik Fiksi — pukul 12.00–12.45 WIB
  • JDA Bookstore — pukul 14.00–14.45 WIB
  • Bumi Fiksi — pukul 15.00–16.00 WIB

Pembelian buku selama sesi live di lima toko buku tersebut berhak mendapatkan edisi tanda tangan langsung (TTD) dan bonus spesial, yang hanya tersedia selama periode live berlangsung.

Tentang Penulis: Reza Mustopa

Reza Mustopa adalah seseorang yang pernah kehilangan ibu di usia yang sangat muda, lalu tumbuh sambil belajar memahami arti kehilangan dalam bentuk yang berbeda—kehilangan yang tidak selalu datang karena kematian, tetapi juga karena kehadiran yang terasa semakin jauh.

Ia menulis bukan karena hidupnya telah baik-baik saja, melainkan sebaliknya. Ada banyak pertanyaan yang belum sempat menemukan jawaban, banyak luka yang masih belajar diterima, dan banyak percakapan yang hanya bisa disampaikan lewat kata-kata. Melalui buku terbarunya, Reza ingin menemani siapa pun yang tumbuh dengan nama “bapak”, tetapi tidak pernah benar-benar merasakan kehadirannya.

Reza telah menulis tiga judul buku sebelumnya di Gradien Mediatama, yaitu Patah, Tumbuh, Sembuh (2022), Bu, Aku Ingin Pelukmu (2024)—yang akan diadaptasi ke layar lebar—dan Bu, Aku Ingin Pulang Tapi ke Mana? (2025). Salahkah Aku Berduka untuk Bapak yang Masih Ada? menjadi buku ke-5 yang terbit di Penerbit Gradien Mediatama.

Ikuti Reza Mustopa di Instagram dan TikTok: @rezamustopa / @rezamustopa_

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)

Kapan Live Session buku Reza Mustopa diadakan? Live Session diadakan pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 10.00–16.00 WIB.

Di mana lokasi acara Live Session? Acara berlangsung di Percetakan Sarana Kata Grafika, Jln. Suci/Industri No. 44, Kel. Susukan, Kec. Ciracas, Jakarta Timur, dan disiarkan live TikTok di lima toko buku rekanan.

Bagaimana cara mendapatkan buku edisi tanda tangan (TTD)? Edisi TTD dan bonus spesial hanya bisa didapatkan dengan membeli buku selama sesi live berlangsung di Naraloka Patra, Pragyaloka, Republik Fiksi, JDA Bookstore, atau Bumi Fiksi.

Berapa harga buku “Salahkah Aku Berduka untuk Bapak yang Masih Ada?” Buku ini dibanderol Rp87.000, terbit Agustus 2026 dengan tebal 164 halaman.

Buku ini cocok untuk siapa? Cocok untuk pembaca yang tumbuh dalam keluarga broken home, menjadi yatim pasif, dibesarkan bukan oleh orang tua kandung, atau anak yang dipaksa dewasa oleh keadaan—dan mencari buku self-improvement yang relate soal relasi dengan sosok ayah.


Didukung oleh: Kawah Media, Gradien Mediatama, Eskage, Naraloka Patra, Pragya Loka, Republik Fiksi, JDA (Jendela Dunia Aksara), dan Bumi Fiksi.

live session buku reza mustopa salahkah aku berduka

Yuk, Hadir di Live Session & Tanda Tangan Buku Terbaru dari Ade Rima Miranti! ✨

aku rumah semua orang, tapi ke mana aku pulang

Buat kamu—anak pertama perempuan yang terbiasa jadi tempat bersandar semua orang tapi lupa siapa yang jadi tempatmu pulang—buku ini ditulis khusus untukmu.

Tentang Buku

Aku Rumah Semua Orang, tapi ke Mana Aku Pulang? adalah buku terbaru karya Ade Rima Miranti (dikenal sebagai Amik, pemilik akun @sadgirlsyndrom), penulis empat buku terbitan Gradien Mediatama. Buku ini mengangkat tema anak pertama perempuan yang dipaksa kuat oleh keadaan — mulai dari tekanan menjadi tulang punggung keluarga, kehilangan sosok ayah, pola jatuh cinta yang berulang menyakitkan, hubungan jarak jauh (LDR) yang kehilangan arah, hingga situationship yang menguras hati.

Ditulis dalam format cerita naratif yang mengalir dan diselingi prosa pendek yang quotable, buku ini juga dilengkapi ilustrasi estetik serta halaman aktivitas untuk journaling dan refleksi diri — cocok untuk pembaca yang mencari buku self-healing sekaligus romance yang relate dengan kehidupan nyata.

Spesifikasi Buku

Detail Informasi
Judul Aku Rumah Semua Orang, tapi ke Mana Aku Pulang?
Tagline Tentang Anak Pertama Perempuan yang Dipaksa Kuat oleh Keadaan
Penulis Ade Rima Miranti (@sadgirlsyndrom)
Penerbit Gradien Mediatama
Kategori Self-Improvement
Ukuran 13 x 19 cm
Tebal 192 halaman
Harga Rp97.000
Terbit Agustus 2026
Edisi Khusus Edisi TTD (tanda tangan penulis) + bonus spesial

Jadwal Live Session & Tanda Tangan Buku

📅 Hari, Tanggal: Jumat, 14 Agustus 2026 🕙 Waktu: 10.00–16.00 WIB 📍 Lokasi: Percetakan Sarana Kata Grafika, Jln. Suci/Industri No. 44, RT.08/RW.03, Kel. Susukan, Kec. Ciracas, Jakarta Timur

Live session juga disiarkan lewat TikTok di lima toko buku berikut, masing-masing dengan sesi khusus bersama Ade Rima Miranti:

  • Bumi Fiksi — pukul 10.00–10.45 WIB
  • Republik Fiksi — pukul 11.00–11.45 WIB
  • JDA Bookstore — pukul 13.00–13.45 WIB
  • Naraloka Patra — pukul 14.00–14.45 WIB
  • Pragyaloka — pukul 15.00–16.00 WIB

Pembelian buku selama sesi live di lima toko buku tersebut berhak mendapatkan edisi tanda tangan langsung (TTD) dan bonus spesial, yang hanya tersedia selama periode live berlangsung.

Tentang Penulis: Ade Rima Miranti

Ade Rima Miranti, akrab disapa Amik, adalah penulis dan konten kreator asal Bumi Lancang Kuning, Riau, yang kini menetap di Surabaya. Sebagai anak pertama perempuan yang tumbuh dengan tumpukan tanggung jawab, Amik menulis buku ini bukan sekadar untuk bercerita, tetapi juga sebagai proses berdamai dengan perjalanan hidupnya sendiri.

Selain menulis, Amik dikenal aktif membagikan cerita perjalanan mendaki gunung dan refleksi kehidupan melalui media sosial. Buku-buku sebelumnya yang ia tulis antara lain Kepada yang Patah, From Insecure to I’m Secure, Ketika Kamu Ubah Tangismu Menjadi Patah Hati Terhebat, dan Jika Bukan Aku, Kenapa Bawa Aku Sejauh Ini?.

Ikuti Ade Rima Miranti di Instagram dan TikTok: @aderimamiranti_

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)

Kapan Live Session buku Ade Rima Miranti diadakan? Live Session diadakan pada Jumat, 14 Agustus 2026, pukul 10.00–16.00 WIB.

Di mana lokasi acara Live Session? Acara berlangsung di Percetakan Sarana Kata Grafika, Jln. Suci/Industri No. 44, Kel. Susukan, Kec. Ciracas, Jakarta Timur, dan disiarkan live TikTok di lima toko buku rekanan.

Bagaimana cara mendapatkan buku edisi tanda tangan (TTD)? Edisi TTD dan bonus spesial hanya bisa didapatkan dengan membeli buku selama sesi live berlangsung di Bumi Fiksi, Republik Fiksi, JDA Bookstore, Naraloka Patra, atau Pragyaloka.

Berapa harga buku “Aku Rumah Semua Orang, tapi ke Mana Aku Pulang?” Buku ini dibanderol Rp97.000, terbit Agustus 2026 dengan tebal 192 halaman.

Buku ini cocok untuk siapa? Cocok untuk pembaca — khususnya anak pertama perempuan — yang mengalami tekanan menjadi kuat untuk keluarga, kehilangan sosok penting, pola relasi yang menyakitkan, atau LDR yang kehilangan arah, dan mencari buku romance yang relate sekaligus reflektif.


Didukung oleh: Kawah Media, Gradien Mediatama, Eskage, Naraloka Patra, Pragya Loka, Republik Fiksi, JDA (Jendela Dunia Aksara), dan Bumi Fiksi.

 

aku rumah semua orang, tapi ke mana aku pulang

 

Rayakan 1.000.000++ Penonton! Dapatkan Diskon 10% Buku “AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?” di Gramedia

Dapatkan Diskon 10% Buku "AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?" di Gramedia

Fenomenal film “AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?” benar-benar tak terbendung! Telah disaksikan oleh lebih dari 1.000.000 lebih penonton di seluruh bioskop Indonesia. Baru saja tayang di bioskop dalam 12 hari ini, kisah hangat antara ayah dan anak ini sukses menguras air mata dan memenangkan hati masyarakat.

Sebagai bentuk apresiasi atas antusiasme yang luar biasa ini, Penerbit Gradien dan toko buku Gramedia mempersembahkan promo spesial bagi Kamu yang ingin menyelami ceritanya lebih dalam.

Melalui kampanye #BACABUKUNYASETELAHNONTONFILMNYA, Kamu bisa mendapatkan Diskon 10% untuk pembelian buku aslinya hanya dengan menunjukkan tiket nonton Kamu!

Cara Mendapatkan Potongan Harga di Toko Buku Gramedia

Mendapatkan diskon ini sangat simpel, semudah membawa kenangan manis dari bioskop ke rak buku Kamu:

  • Tunjukkan Tiket: Bawa tiket fisik atau tunjukkan e-ticket film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? ke kasir Gramedia.
  • Klaim Potongan Harga: Dapatkan langsung potongan 10% tanpa minimum transaksi untuk judul buku tersebut.
  • Lokasi: Berlaku di seluruh gerai Gramedia se-Indonesia.

Lengkapi Pengalaman Emosional Kamu

Mengapa satu juta orang lebih memilih menonton film ini? Karena kekuatan ceritanya. Namun, pengalaman Kamu belum lengkap jika belum menyentuh lembaran bukunya. Versi literasi menawarkan:

  1. Detail yang Lebih Intim: Menyelami isi pikiran sang Ayah yang tidak sempat terucap di film.
  2. Imajinasi Tanpa Batas: Merasakan kembali adegan-adegan ikonik melalui narasi tulisan yang puitis dan mendalam.
  3. Koleksi Bersejarah: Memiliki bukti fisik dari karya yang telah menjadi fenomena box office tahun ini.

Jangan sampai ketinggalan! Simpan potongan tiketmu. Segera kunjungi Gramedia terdekat, tunjukkan tiket Kamu, dan bawa pulang buku yang telah menginspirasi jutaan orang ini dengan harga spesial.

#BACABUKUNYASETELAHNONTONFILMNYA

 

 

Rayakan 1.000.000++ Penonton! Dapatkan Diskon 10% Buku "AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?" di Gramedia

 

BACA JUGA: “Ayah Ini Arahnya Ke Mana, Ya?” Udah 1 Juta++ Penonton dalam 12 Hari!

 

“Ayah Ini Arahnya Ke Mana, Ya?” Udah 1 Juta++ Penonton dalam 12 Hari!

film ayah tembus 1 juta penonton

 

Nggak nyangka sih, tapi ini nyata — film Ayah Ini Arahnya Ke Mana, Ya? (2026) resmi tembus 1 juta penonton per Senin, 20 April 2026. Cuma 12 hari tayang, loh! Itu berarti rata-rata hampir 100 ribu orang nonton per hari. Alhamdulillah. Keren banget.

Film garapan Kuntz Agus ini emang bukan film biasa. Ceritanya deket banget sama kehidupan kita — soal hubungan ayah dan anak yang kadang awkward, jarang ngobrol, tapi sebenernya penuh rasa sayang yang nggak keucap. Siapa yang nggak relate, coba?

Banyak yang udah nonton bilang filmnya bikin ketawa sekaligus nangis. Tipe film yang abis nonton langsung pengen nelpon bokap, deh. Vibes-nya hangat, relate, dan dapet banget di hati.

Belum nonton? Yuk buruan ke bioskop!

Ini bukan lebay — film kayak gini jarang ada. Yang ringan tapi ngena, yang lucu tapi juga bikin mewek di kursi bioskop sambil pura-pura elap keringat. Ajak bokap, nyokap, adik, atau siapapun yang penting kamu nggak nonton sendirian dan malah makin baper.

Plus, ada bonusnya!

Film ini diadaptasi dari buku dengan judul yang sama  karya Khoirul Trian— yang udah duluan viral dan bikin banyak orang senyum-senyum sendiri pas bacanya. Kalau filmnya aja udah sebagus ini, bayangin serunya baca versi bukunya yang lebih detail dan personal.

Buku “Ayah Ini Arahnya Ke Mana, Ya?” bisa kamu dapetin sekarang — cocok banget dijadiin hadiah buat bokap, atau buat kamu yang pengen ngerasain ceritanya lebih dalam.

Tonton filmnya. Baca bukunya. Ajak teman-temanmu nonton ya! 🎬📖

 

BACA JUGA Dari Buku Viral ke Layar Lebar: Film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? Siap Tayang di Bioskop – Gradien Mediatama

 

 

merayakan ayah ini arahnya ke mana ya

 

 

Dari Buku Viral ke Layar Lebar: Film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? Siap Tayang di Bioskop

buku viral ke layar lebar

Kabar gembira buat kamu yang sudah lama menanti. Film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? resmi menggelar Gala Premiere pada 2 April 2026 pukul 16.00 WIB di XXI Epicentrum, Kuningan Jakarta dan akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 April 2026.

Film ini diadaptasi dari buku mega best seller karya Khoirul Trian yang sempat viral di TikTok sejak akhir 2024. Novel ini pertama kali terbit Oktober 2024 dan hanya butuh dua bulan untuk menjadi best seller, dan 8 bulan menjadi Mega Best Seller, bahkan hingga menembus pembaca di Malaysia dan menjadi buku Best Seller di sana.

Film ini mengisahkan sosok Dira, anak perempuan yang tumbuh bersama ayah yang selalu ada secara fisik, namun tak pernah benar-benar hadir secara emosional. Dira dan adiknya Darin dibesarkan di rumah yang terlihat hangat dari luar, namun menyimpan banyak diam dan janji yang tak terpenuhi.

Tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi sekarang. Novel ini membahas fenomena fatherless yang cukup tinggi di Indonesia — sebuah luka yang selama ini banyak dipendam dan belum sempat disuarakan.

Film ini disutradarai Kuntz Agus dan diproduksi Five Elements Pictures berkolaborasi dengan IFI Sinema, A&Z Films, dan Leo Pictures. Dibintangi Mawar De Jongh, Rey Bong, Dwi Sasono, Unique Priscilla, Baskara Mahendra, Kiara McKenna, dan Dinda Kanya Dewi.

Baca juga: 7 Hari Langsung Bestseller: Perjalanan Kak Trian dan Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya? — Gradien Mediatama

Bagi kamu yang sudah baca bukunya, film ini akan menjadi pengalaman yang lebih dalam lagi. Dan kalau belum — mungkin inilah saat yang tepat untuk memulainya sebelum film tayang.

Catat tanggalnya. Siapkan tisu.

 

 

 

 

Bu, Aku Ingin Pelukmu: Ketika Anak Muda Merindu dalam Diam

Reza Mustopa

Bayangin kamu lagi duduk di kamar, scroll TikTok malem-malem, terus nemu video puisi dengan suara lembut yang bikin hati kejepit. Kata-katanya sederhana, tapi ngena banget—ngomongin rindu, kehilangan, sama perjuangan yang gak kelar-kelar. Itu pertama kali gue “ketemu” Reza Mustofa, cowok 26 tahun yang sekarang jadi penulis buku *Bu, Aku Ingin Pelukmu*. Buku ini rilis pas Hari Ibu, 22 Desember 2024, dan entah kenapa, rasanya kayak dipeluk sekaligus ditonjok—bikin hati hangat tapi juga perih.

Reza bukan tipe penulis yang dari kecil udah nenteng buku diary. Dia anak rantau biasa, kerja full-time di ibu kota, pulang capek, dan cuma pengin rebahan. Tapi dari TikTok, dia mulai tuang puisi, trus bikin buku pertama, *Patah Tumbuh Sembuh* (2022), yang penuh vibe romansa-self-improvement. Nah, buku keduanya ini beda—fokus ke keluarga, khususnya ibu. Judulnya? Muncul spontan pas nongkrong di coffee shop bareng timnya: “Bu, Aku Ingin Pelukmu”. Simpel, tapi dalem.

 

Rindu yang Gak Pernah Selesai

Gue coba bayangin jadi Reza. Kamu kehilangan ibu pas umur 1,5 tahun—bayi yang bahkan belum bisa bilang “Ibu” dengan jelas. Memori Kamu cuma samar: sosok wanita kuat, terbaring di ruang tamu, ditutup kain putih, gak bernapas. Tetangga bilang, “Mamanya tidur, main aja.” Kamu kecil banget, tapi udah ditabok sama kehilangan yang Kamu gak ngerti. Foto ibu? Sampai sekarang Reza masih cari yang bener-bener jelas, tapi gak ketemu. Rindu itu cuma bisa dipendem, dan buku ini jadi cara dia “ngobrol” sama ibu yang udah gak ada.

Di halaman 132, dia nulis: *“Bu, aku pernah menahan lapar hanya karena takut besok gak bisa makan. Kuat dan sabarku sekarang adalah doa yang Ibu sampaikan langsung kepada Tuhan.”* Baca ini, gue mikir: kita yang masih punya ibu sering lupa bilang “Bu, aku pulang” atau cuma cerita, “Hari ini capek banget.” Reza? Dia cuma bisa bayangin ibunya di atas sana, doain dia sambil tersenyum. “Doa ibu ngalir di darah gue,” katanya. Gila, dalem banget.

 

Struggle Anak Rantau

Reza cerita, nulis buku ini gak gampang. Bayangin Kamu kerja 9-to-5, pulang cuma pengin tidur, tapi otak Kamu masih penuh sama deadline sama luka lama. Dia mulai cicil naskah dari November 2023, tapi baru kelar 2024—setahun penuh drama sama emosi. “Pulang kerja capek, energi buat nulis habis,” katanya. Tapi dia gak mau nyerah. Buku pertama udah lahir, pembaca nunggu karya baru, jadi dia push diri sendiri.

Yang bikin nulisnya berat, dia harus buka luka soal keluarga. Salah satunya momen pas kakeknya (dia panggil “Abah”) meninggal. Waktu SMP, Abah sakit, keluarga kumpul tengah malem. Neneknya nyuruh tidur karena besok sekolah. “Gue tidur, jam 3 pagi kaget bangun—Abah udah gak ada,” ceritanya. Penyesalan itu nempel: “Kenapa gue gak nemenin?” Dia tuang emosi itu ke buku, часто sambil nangis. Kamu bisa bayangin gak, nulis sambil netes air mata, cuma biar luka itu jadi cerita yang nyanyi ke orang lain?

 

Bapak dan Ikhlas yang Pelan

Trus, hubungan sama bapaknya? Reza jujur: “Sempet benci.” Pas ibu meninggal, bapak cepet nikah lagi. “Kenapa gak nunggu gue gede, tanya gue dulu?” katanya waktu kecil. Tapi pas dewasa, dia ngerti: “Bapak juga butuh temen.” Sekarang, dia coba baikan, meski bapak baru tahu bukunya pas PO. “Bapak bangga gue survive di kota orang,” ujarnya. Di buku ini, ada sisipan soal bapak, tapi gak terlalu dalem—mungkin karena Reza udah pelan-pelan ikhlas.

Chapter di bukunya kayak perjalanan: dari struggle jadi anak rantau sendirian, sampe akhirnya nerima kehilangan. “Gak semua tentang kehilangan itu buruk. Proses ini yang bikin gue kuat,” katanya. Tapi dia juga manusia—pernah nanya, “Kenapa harus gue, Tuhan?” Kerennya, dia jawab sendiri: “Ini yang terbaik buat Kamu.”

 

Rapuh Tapi Nyata

Halaman 55 bikin gue speechless: *“Bu, bolehkah aku menangis? Bisakah aku jeda dari perasaan sakit ini? Bolehkah aku bilang ke dunia bahwa aku gak sekuat itu?”* Reza bilang, orang liat dia kuat—survive di ibu kota, kerja keras, mandiri. Tapi di dalem? “Gue pengin ditanya, ‘Udah makan belum? Gimana kabar Kamu?’” Perhatian kecil yang kita sering anggap remeh, buat dia jadi mimpi.

Dia gak takut nangis, bro. “Cowok nangis? Wajar. Emosi itu manusiawi,” katanya. Awal bikin konten, dia dikira “lebai” sama netizen. Sempet down, pengin berhenti. Tapi pas banyak yang bilang, “Kak, kata-katamu bikin gue bangkit,” dia balik gaspol. “Itu bayaran terbaik buat konten kreator,” ujarnya.

 

Pesan buat Kita

Reza pengin buku ini jadi pengingat: manfaatin waktu sama orang tua. “Buat yang masih punya ibu, peluk, cerita, bikin memori. Yang udah kehilangan, buku ini bisa wakilin rindu Kamu,” katanya. Dia yakin ibunya di atas sana lagi cantik, doain dia. “Kita yang hidup juga harus doain ibu,” tambahnya.

 

Kenapa Kamu Harus Baca Buku Ini?

BU, AKU INGIN PELUKMU – Di Saat Dunia Begitu Keras Menempaku

Bu, Aku Ingin Pelukmu campur cerita panjang sama prosa pendek—bikin Kamu yang lagi quarter-life crisis atau ngerasa sendiri di perantauan bakal ngerasa “ini gue banget”. Buku ini kayak sahabat yang dengerin Kamu diam-diam, sambil bilang, “Gak apa, Kamu gak sendiri.”

Mau beli? Cek Bumi Fiksi, Republik Fiksi, atau Jda Bookstore di marketplace. PO udah selesai, tapi reguler masih ada—buruan sebelum kehabisan!

Kamu pernah ngerasa kayak Reza? Rindu yang cuma bisa dipendem, atau struggle yang kamu pendem sendiri? (red-gr)

 

Artikel di atas fokus ke sudut pandang anak muda yang membayangkan perjalanan Reza—dari TikTok, kehilangan ibu, hubungan sama bapak, sampe ikhlas lewat tulisan bergaya naratif yang lebih personal. Kamu juga bisa menyimak podcast bersama Reza Mustopa di bawah ini:

 

 “Pak Bu, Bantu Aku Lewat Doamu”: Kisah Nyata yang Ngena Banget Buat Anak Muda

Pak, Bu, Bantu Aku Lewat Doamu – Di Saat Usiamu Makin Menua dan Aku Belum Jadi Apa-Apa

Halo, guys! Kalian pernah ngerasa stuck di hidup, bingung mau cerita ke siapa, atau malah ngerasa semua beban ada di pundak kalian? Nah, di episode terbaru podcast Behind the Book bareng Fatwa dari Gradien Media, ada tamu spesial: Dandy Arifin, penulis buku “Pak Bu, Bantu Aku Lewat Doamu”. Buku ini bener-bener bikin hati bergetar, apalagi buat kita yang usianya 20-an, lagi nyari jati diri sambil ngadepin drama hidup.

Dandy, yang dikenal lelet suaranya yang sendu banget di TikTok dan Instagram, bawa cerita yang gak cuma bikin merinding, tapi juga relate buat banyak anak muda. Yuk, kita intip apa sih yang dia bagi di siniar ini dan kenapa bukunya wajib banget masuk wishlist kalian!

 

Dari Konten Keren ke Buku Penuh Makna

Dandy awalnya bukan penulis buku, bro. Dia mulai dari bikin konten di TikTok sama Instagram dengan nama “Dini Hari”. Keren, kan? Nama ini ternyata punya filosofi: dini hari itu momen tenang buat ngaca sama diri sendiri, pas orang lain udah pada tidur. Awalnya, dia cuma pake suara sendu tanpa nunjukin muka—pure footage random kayak jalanan atau apa aja, cuma buat nyanyi perasaan yang dia pendam.

“Gue bikin konten biar lega,” kata Dandy. Dua tahun dia konsisten, sampe akhirnya berani nunjukin muka setelah dapet saran dari temen dan konten kreator lain. Dari situ, perjalanan dia malah nyampe ke Gradien Media, dan sekarang udah nulis tiga buku! Buku pertamanya Kita Bukan Ujung Cerita (romansa), kedua Kita Terlalu Lucu untuk Diseriusin (kolaborasi), dan yang ketiga ini—Pak Bu, Bantu Aku Lewat Doamu—tema keluarga yang dalem banget.

 

Jadi Jembatan Lewat Tulisan

Buku ini beda dari yang sebelumnya. Kalau biasanya Dandy nulis romansa, sekarang dia cerita soal keluarga, khususnya dari sudut pandang cowok bungsu yang gengsi buat jujur sama orang tua. “Cowok kan gengsi bilang apa yang dirasa ke bokap-nyokap. Lewat buku ini, gue coba jadi jembatan—buat gue sendiri, juga buat yang baca,” ujarnya.

Dandy bilang, ngomong sama orang tua tuh susah banget, bahkan cuma buat bilang, “Pak, sehat-sehat ya,” atau “Hari ini capek banget, gimana nih?” Di keluarganya, ngobrol terbuka gitu bukan kebiasaan. Makanya, buku ini jadi media dia nyanyi ketakutan, harapan, sampe perjuangan buat orang tua—semua yang gak bisa dia ucap langsung.

 

Sandwich Generation: Beban yang Gak Pilih Kasih

Buat kalian yang di usia 20-an dan ngerasa jadi “tumpuan keluarga”, cerita Dandy bakal ngena banget. Dia bungsu dari dua bersaudara, kakaknya udah nikah dan pisah rumah, jadi sekarang semua harapan orang tua ada di dia—secara finansial, emosional, sampe status sosial. “Semua tumpuan di gue. Mau ke mana lagi mereka?” katanya pasrah.

Dandy cerita, keluarganya dulu sering direndahin karena ekonomi pas-pasan. Kakaknya mulai ngangkat derajat keluarga lewat kerja keras, dan sekarang giliran Dandy nerusin. “Keluarga gue pake metode balas dendam,” candanya. Bukan dendam beneran, tapi semangat buat buktiin ke orang-orang bahwa mereka bisa lebih baik. Tapi, beban ini berat banget—dia sampe bilang, “Gue jadi penyempurna dari apa yang kakak mulai.”

 

Inner Child yang Gak Pernah Sembuh

Yang bikin hati nyesek, Dandy cerita dia gak pernah ngerasa jadi anak kecil beneran. Bayangin, di umur 5 tahun, dia udah lihat ibunya ditagih utang sampe dimarahin orang. “Ibu selalu nyuruh gue masuk kamar pas ada yang dateng gitu,” kenangnya. Dia juga gak pernah punya sepeda, gak pernah ngerasa dituntun bokap belajar sepeda, atau dibopong ke kamar pas ketiduran di depan TV—hal-hal simpel yang banyak anak lain punya.

“Gue cuma bisa ngeliat temen main sepeda dari pintu kontrakan,” ujarnya. Inner child-nya sampe sekarang masih “meraung”, katanya. Bahkan kalo liat anak kecil dibeliin mainan sama bapaknya, dia suka ngerasa, “Beruntung banget mereka.” Walau sekarang dia udah bisa beli apa aja, momennya gak bakal balik—dan itu fakta yang dia akui bikin sedih.

 

Titik Balik yang Ngebakar Semangat

Ada satu momen yang bikin Dandy bertekad gak mau liat keluarganya susah lagi. Waktu kelas 5 SD, dia gak dapet buku paket gara-gara belum bayar SPP. Ibunya dateng ke sekolah, dan di depan matanya sendiri, ibunya dimaki guru. “Kamu niat nyekolahin anak apa enggak? Utang kemarin aja belum lunas!” Begitu kata gurunya. Dandy geram, “Kok lu bisa maksa ibu gue di depan gue?”

Dari situ, dia janji sama diri sendiri: lulus sekolah, dia harus ngangkat derajat orang tua setinggi-tingginya. “Gue gak mikir ‘sampe kapan’. Yang penting mereka dulu, gue mah gampang,” katanya. Tapi, di balik semangat itu, dia jujur: “Capek, cuma gak bisa berhenti.”

 

Quote yang Bikin Freez

Salah satu tulisan Dandy yang dibacain Fatwa di podcast bikin kita semua speechless:

“Bu, kalau boleh jujur aku capek. Harus menyelesaikan semuanya sendirian. Aku kadang pengin menyerah, Bu. Tapi kalau aku nyerah, siapa nanti yang bahagiain Ibu? Bu, aku takut aku kesepian. Aku takut dibunuh sepi, aku takut atas pikiranku sendiri, dan aku takut mati di tanganku sendiri.”

Ini ditulis di momen dia bener-bener capek, tapi gak punya pilihan selain lanjut. “Kenapa harus gue?” tanyanya dalam hati. Tapi jawabannya simpel: “Kalau bukan gue, siapa lagi?”

 

Pesan buat Kita yang Relate

Buat kalian yang ngerasa jadi sandwich generation atau punya inner child yang belum sembuh, Dandy cuma bilang, “Lakuin yang terbaik aja. Kita gak punya pilihan lain.” Realistis banget, kan? Tapi di balik itu, dia nunjukin bahwa nerima keadaan itu proses panjang—dan gak apa-apa kalo kita capek, asal jangan nyerah.

 

Quote favoritnya dari buku ini juga dalem banget: 

“Aku ikhlas, Bu. Waktu di hari kelulusanku, Ibu bilang, ‘Ibu sama Bapak cuma mampu sampai sini aja, ya. Kalau mau lanjut, nanti biaya sendiri.’ Sungguh, Bu, aku ikhlas. Tapi kalau boleh jujur, aku juga mau pakai almamater.”

Nyesek, tapi bikin kita mikir: seberapa jauh kita rela berkorban buat orang tersayang?

 

 Kenapa Harus Baca Buku Ini?

Pak, Bu, Bantu Aku Lewat Doamu – Di Saat Usiamu Makin Menua dan Aku Belum Jadi Apa-Apa

 

“Pak Bu, Bantu Aku Lewat Doamu” bukan cuma cerita Dandy, tapi cermin buat kita yang lagi struggle di usia 20-an—ngadepin ekspektasi keluarga, tekanan ekonomi, sampe luka masa kecil yang masih nyanyi. Ditulis dengan effort gede, buku ini penuh “bawang” tapi juga pelajaran hidup yang bikin mata kita terbuka.

Mau beli? Cus ke marketplace atau toko buku online kayak Buku Jda Bookstore, Republik Fiksi, atau Bumi Fiksi. Jangan bajakan ya, guys—dukung literasi Indonesia dan penulis keren kayak Dandy!

So, apa pendapat kalian tentang cerita ini? Pernah ngerasa di posisi Dandy juga?

 

 

 

 

Menggenggam Harapan: Kisah Seorang Anak yang Menjadi Tulang Punggung Keluarga

ayah ini arahnya kemana ya khoirul trian

Kehidupan sebagai generasi milenial sering kali diwarnai dengan tekanan yang datang dari berbagai arah. Salah satunya adalah peran sebagai tulang punggung keluarga, di mana banyak dari kita yang merasa harus mengorbankan diri demi orang lain. Tak jarang, kita merasa lelah, bingung, dan bahkan hilang arah. Namun, ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari perjalanan ini.

Khoriul Trian, seorang penulis yang baru saja merilis buku terbarunya berjudul Ayah Ini Arahnya ke Mana Ya, berbagi kisah tentang bagaimana dirinya sebagai anak harus berjuang keras untuk keluarganya. Sampai saat ini buku ini telah terjual 26.000 eksemplar, mencatat penjualan bestseller dalam waktu cepat.

BACA JUGA : 7 Hari Langsung Bestseller: Perjalanan Kak Trian dan Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya? –

Dalam kisah ini, Trian mengungkapkan perasaan yang sering dirasakan oleh banyak milenial, terutama mereka yang harus menjadi tumpuan hidup bagi orang tua. Rasa capek, bingung, dan bahkan kehilangan arah kerap menghampiri, tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: kita tidak berjuang hanya untuk diri kita sendiri.

Trian menekankan bahwa menjadi tulang punggung keluarga bukanlah tugas yang mudah. Terkadang, meskipun kita sudah berusaha keras, hasil yang didapatkan tidak selalu sebanding. Namun, seperti yang diungkapkan Trian, perjuangan ini bukanlah untuk diri sendiri semata. Kita berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi orang tua, adik, dan keluarga yang kita cintai. Tentu saja, ini membutuhkan kekuatan yang tidak sedikit.

Namun, Trian juga mengingatkan kita bahwa meskipun harus kuat untuk orang lain, kita tidak boleh melupakan diri sendiri. Kesehatan, baik fisik maupun mental, sangat penting dalam menjalani hidup yang penuh tantangan ini. Milenial seringkali terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tanggung jawab lainnya, hingga lupa untuk menjaga diri. Ini adalah pelajaran yang perlu diingat: jangan biarkan dirimu terjebak dalam rutinitas yang menguras energi tanpa memberi ruang untuk diri sendiri.

Selain itu, Trian juga berbicara tentang rasa rindu terhadap masa kecil yang penuh keceriaan dan kebersamaan dengan keluarga. Rasa rindu ini mengingatkan kita bahwa hidup yang penuh tekanan bukanlah hal yang ingin kita alami terus-menerus. Namun, kita juga tahu bahwa perjalanan hidup ini tak bisa dihindari. Sebagai generasi milenial, kita harus siap menghadapi kenyataan dan terus berjuang meski banyak hal yang berubah.

Pesan utama yang bisa kita petik dari cerita ini adalah pentingnya untuk tetap bertahan dan menjaga kesehatan mental, meskipun hidup terasa berat. Sebagai anak yang menjadi tulang punggung keluarga, kita memang harus kuat, tetapi kita juga harus menjaga keseimbangan dalam hidup. Jangan biarkan perjuangan untuk orang lain mengorbankan diri kita sendiri. Kita berhak untuk bahagia dan merawat diri.

Jika kamu merasa lelah dan butuh dukungan, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Kita semua berjuang dengan cara kita masing-masing, dan itu sudah cukup.

Simak kisah selengkapnya dalam buku Ayah, Ini Arahnya Ke mana Ya? Dapatkan di toko buku Gramedia dan marketplace kesayangan kamu.

Yuk membeli buku yang asli, bukan buku bajakan, ini merupakan bentuk apresiasi terhadap penulis dan penerbit, serta ekosistem perbukuan di Indonesia.

ayah ini arahnya kemana ya

 

Artikel di atas dari YouTube Catatan Khoirul Trian

 

7 Hari Langsung Bestseller: Perjalanan Kak Trian dan Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya?

khoirul trian

Halo, teman baca! Artikel berikut ini diambil dari podcast Behind the Book, siniar tempat kita menyelami lebih dalam proses kreatif di balik sebuah buku. Episode kali ini terasa istimewa karena kita kembali menghadirkan Kak Trian, penulis yang telah sukses menjadikan bukunya, Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya?, sebagai bestseller hanya dalam waktu tujuh hari. Ini adalah kali ketiga Kak Trian bergabung di siniar ini, dan pencapaiannya kali ini sungguh menginspirasi.

Perjalanan Panjang Menuju Kesuksesan

Ketika ditanya apakah kesuksesan ini mengejutkan, Kak Trian dengan jujur mengungkapkan bahwa meskipun optimis, perjalanan ini bukanlah tanpa lika-liku. Ia berbagi bahwa selama beberapa tahun terakhir, ia telah mengalami berbagai fase berat, termasuk kegagalan dalam lima buku sebelumnya. Namun, baginya kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses.

“Aku selalu merasa setiap buku yang kutulis mendapat porsi usaha 100%. Namun, kali ini mungkin doa ibu yang membuat perbedaan besar,” ujarnya, penuh haru.

Buku yang Menyentuh Banyak Hati

Apa yang membuat Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya? begitu spesial? Kak Trian menjelaskan bahwa buku ini bukan hanya kisah tentang seorang anak yang kehilangan peran ayah, tetapi juga menggambarkan perspektif ayah yang kehilangan peran anak. Buku ini mencoba memberikan sudut pandang yang seimbang, membahas hubungan antara orang tua dan anak dari dimensi masa lalu, masa kini, dan masa depan.

“Kita sering lupa bahwa orang tua kita hidup di zaman yang berbeda. Kita menuntut mereka memahami dunia kita tanpa mencoba memahami dunia mereka dulu,” kata Kak Trian.

Manifestasi Sebuah Nama

Menariknya, nama “Trian” sendiri memiliki makna mendalam. Ayahnya memberikan nama itu sebagai doa agar ia menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Kak Trian melihat nama ini sebagai dorongan untuk terus berkarya dan berbagi lewat tulisan-tulisannya.

Strategi di Balik Kesuksesan

Ketika membahas strategi, Kak Trian menekankan pentingnya konsistensi dan keikhlasan dalam setiap proses. Ia percaya bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk berusaha sebaik mungkin. Selain itu, ia juga merasa bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari doa dan dukungan keluarga, terutama sang ibu.

Pesan Mendalam untuk Pembaca

Melalui buku ini, Kak Trian ingin mengingatkan pembacanya tentang pentingnya menghargai perbedaan generasi dan menerima takdir sebagai bagian dari ujian kehidupan. Sebuah pesan yang sangat relevan dan menyentuh, terutama bagi mereka yang tengah menghadapi dinamika keluarga.

“Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya?” bukan hanya sebuah buku, tetapi juga pelukan hangat bagi siapa saja yang merasa lelah dan kehilangan arah. Semoga kisah ini bisa menginspirasi banyak orang untuk terus berjuang dan menemukan kebahagiaan dalam prosesnya. Kamu sudah membaca buku ini? Bagi yang belum, yuk temukan di toko buku Gramedia atau toko buku online.

 

ayah ini arahnya kemana

 

Kisah di Balik Buku Keenam Khoriul Trian: Doa Ibu dan Pesan Tentang Ayah

Khoirul seorang penulis muda yang telah menelurkan lima buku sebelumnya, kembali hadir dengan karya keenamnya yang mengangkat tema keluarga. Kali ini, ia memilih fokus pada sosok ayah, peran yang seringkali terlupakan atau hanya dilihat dari permukaan. Namun, ada kisah menarik di balik lahirnya buku ini. Trian merasa keberhasilan proses kreatifnya tidak lepas dari doa sang ibu, yang selalu hadir di setiap langkah hidupnya.

Dalam buku terbarunya, Trian mengajak pembaca menyelami tiga dimensi waktu: hari ini, nanti, dan esok. Ia ingin menunjukkan bagaimana luka, peran, dan persiapan masa depan keluarga saling berkaitan. Melalui berbagai cerita yang dirangkum dengan gaya naratif khasnya, Trian berusaha menghadirkan perspektif yang seimbang antara peran ayah dan anak, serta bagaimana hubungan tersebut dibentuk oleh dinamika waktu dan pengalaman hidup.

Trian mengaku bahwa kisah-kisah dalam buku ini banyak terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Salah satu momen yang ia bagikan adalah rasa kecewa saat mengetahui ayahnya lupa ulang tahunnya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami bahwa di masa ayahnya tumbuh dewasa, perayaan ulang tahun bukanlah sesuatu yang dianggap penting. Perspektif ini memberinya pelajaran bahwa perbedaan generasi kerap membentuk cara pandang yang berbeda dalam menilai sebuah hubungan.

Buku ini juga menjadi refleksi bagi Trian tentang sosok ayahnya. Meski hanya berpendidikan hingga sekolah dasar, ayahnya adalah simbol keteguhan dan pengorbanan. Trian melihat bagaimana ayahnya berjuang keras, mengorbankan mimpi pribadinya demi memastikan adik-adiknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Trian kerap dihadapkan pada ekspektasi yang tinggi, yang di satu sisi membentuk karakter tangguh, namun di sisi lain juga menimbulkan jarak emosional dengan sang ayah.

Meski hubungan mereka tidak selalu mulus, Trian menyadari bahwa setiap keputusan yang diambil ayahnya selalu didasari niat baik. Dalam tulisannya, ia menggambarkan ayah sebagai sosok yang mungkin tidak selalu mampu mengekspresikan cinta dengan kata-kata, namun menunjukkan kasih sayangnya melalui tindakan kecil yang sering luput dari perhatian.

Melalui buku ini, Trian berharap pembaca dapat merenungkan kembali peran ayah dalam hidup mereka. Ia ingin menekankan bahwa orang tua, dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, tetaplah manusia yang berusaha memberikan yang terbaik sesuai dengan pemahaman mereka. Buku ini juga mengajak pembaca untuk belajar memaafkan dan memahami bahwa tidak ada hubungan yang sempurna, tetapi selalu ada ruang untuk memperbaiki dan menghargai momen bersama.

Bagi Trian, buku keenamnya ini bukan hanya sekadar karya, tetapi juga bentuk penghargaan atas perjalanan hidupnya bersama keluarga. Ia berharap karyanya dapat menjadi medium refleksi bagi para pembaca, khususnya generasi milenial, yang tengah berupaya memahami dinamika hubungan keluarga di tengah perubahan zaman. Dengan gaya bahasa yang hangat dan menyentuh, buku ini menjadi pengingat bahwa keluarga, meski penuh konflik dan perbedaan, selalu menjadi tempat kita kembali.

 

 

Apa Makna Ayah bagi Khoirul Trian?

Khoirul Trian, penulis buku bestseller Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?—Anak Kecil Ini Kehilangan Jalan Pulangnya, menggambarkan ayah sebagai sosok penting yang membentuk dirinya. Dalam sebuah wawancara, Trian mengungkapkan bahwa ayah adalah alasan keberadaannya di dunia, seseorang yang menjadi refleksi dirinya. Ia sering disebut sebagai “fotokopian” ayahnya, baik dari segi fisik maupun sifat. Hal ini menjadi kebahagiaan tersendiri baginya, meski di saat tertentu dapat memicu konflik karena karakter keras kepala yang serupa.

Trian menceritakan kekagumannya pada ayah yang merupakan bagian dari *sandwich generation*. Ayahnya, anak kelima dari sembilan bersaudara, hanya lulus SD tetapi mampu menyekolahkan adik-adiknya hingga perguruan tinggi. Pengorbanan besar ini dilakukan dengan mengubur mimpinya sendiri, bekerja serabutan seperti berjualan pisang di pasar. Bagi Trian, ayahnya adalah simbol kehebatan dan tanggung jawab.

Lebih dari itu, Trian mengapresiasi cara ayahnya mendidik. Sang ayah tidak memberinya instruksi langsung, tetapi membiarkannya belajar dari pengalaman. “Kalau penasaran, coba saja,” ujar Trian, mengutip prinsip ayahnya. Salah satu momen yang berkesan adalah ketika Trian hampir tenggelam saat belajar berenang sendiri di laut. Pengalaman itu mengajarinya bahwa untuk tumbuh, seseorang harus “nyebur dulu” ke dalam tantangan hidup.

Trian juga memberikan pandangan mendalam tentang fenomena *fatherless*. Menurutnya, separuh dari tubuh kita adalah ayah, sehingga sekalipun ayah tidak selalu hadir secara fisik atau emosional, kehadirannya tetap terasa. “Kalau rindu ayah, peluk diri sendiri,” katanya. Dalam bukunya, ia menuliskan, “Tolong titip tubuhmu yang separuhnya tubuh Ayah,” sebagai pengingat bahwa sosok ayah selalu ada dalam diri kita.

Trian juga berbicara tentang keberkahan dari perhatian orang tua yang sering kali disalahartikan sebagai larangan berlebihan. Ia menyadari bahwa kebebasan tanpa arahan terkadang justru membuat seseorang merindukan perhatian.

Lewat karyanya, Trian berusaha menginspirasi pembaca untuk lebih menghargai sosok ayah, baik dalam kehadiran maupun absensinya. Pesan-pesan ini, bersama cerita pribadinya, menjadi refleksi yang mengajak kita merenungkan makna ayah dalam hidup.

Dapatkan buku Ayah Ini Arahnya ke Mana Ya di toko buku Gramedia dan marketplace kesayangan kamu. Eiit, beli buku yang asli, bukan buku bajakan.

 

 

 

 

Menggali Kehidupan Melalui Buku Satu Nama yang Sulit Ku Hapus

Dalam podcast Behind The Book, hadir dan berbincang Rafi Ibadi penulis yang dikenal di balik akun @ruanggalau_id. Rafi baru saja merilis buku keduanya, Satu Nama yang Sulit Ku Hapus yang diterbitkan Gradien. Buku ini adalah lanjutan dari karya pertamanya, Aku Titip Dia, yang berhasil mencuri perhatian banyak pembaca, termasuk mereka yang jarang membaca.

Rafi mengungkapkan bahwa Satu Nama yang Sulit Ku Hapus masih mengusung tema kehilangan, cinta diam-diam, dan patah hati. Dalam obrolan di podcast, ia menceritakan bagaimana pengalaman pribadinya menjadi inspirasi utama dalam penulisan buku ini. “Buku ini terlahir dari luka yang saling melukai, bukan hanya aku, tetapi juga orang lain yang terlibat,” katanya.

Dia menceritakan bahwa perjalanan menulis buku ini tidak semudah yang dibayangkan. “Sebenarnya, aku lebih lancar menulis saat patah hati. Dua minggu cukup untuk menyelesaikan naskah ini, meskipun proses editingnya memakan waktu lebih lama,” tambahnya. Temanya yang emosional mungkin membuat beberapa orang merasa canggung untuk menulis, namun Rafi menemukan kekuatan dalam mengungkapkan perasaannya.

Menariknya, perjalanan Rafi sebagai penulis dimulai dari Twitter. Di masa pandemi, ia membuat platform RuangGalau di Twitter, tempat orang-orang bisa berbagi cerita dan pengalaman patah hati. “Banyak orang yang bercerita, dan aku olah menjadi tulisan yang ada dalam buku ini,” ujarnya. Seiring berjalannya waktu, popularitas Ruang Galau berkembang, dan ia pun ditawari oleh penerbit Gradien untuk menerbitkan buku.

Buku pertamanya, Aku Titip Dia, menjadi hit dan bahkan dicetak ulang beberapa kali. “Sekitar 8.000 eksemplar terjual, yang merupakan angka yang sangat baik untuk penjualan buku di kalangan pembaca muda,” jelasnya. Kini, setelah hiatus dan kembali dengan Satu Nama yang Sulit Ku Hapus, ia merasakan antusiasme yang sama dari para pembaca. “Responnya sangat positif, meski jarak antara buku pertama dan kedua cukup jauh.”

Rafi juga berbagi pandangannya tentang dunia penulisan dan media sosial. “Saat ini, TikTok menjadi platform yang lebih banyak digunakan, dan aku berusaha untuk tetap terhubung dengan pembaca di sana,” katanya. Meskipun mengalami tantangan, seperti keinginan untuk menulis tetapi harus sibuk dengan pekerjaan lain, ia tetap berkomitmen untuk berkarya.

Dalam bukunya, Rafi menjelaskan bahwa setiap bab menggambarkan perjalanan emosional yang dialami seseorang ketika berusaha melupakan cinta yang telah berlalu. “Bab pertama membahas tentang harapan yang belum pasti, sementara bab kedua menceritakan tentang bagaimana perasaan bisa semakin membekas meskipun sudah berusaha melepaskan,” tuturnya.

Kisah Rafi adalah contoh nyata bagaimana pengalaman pribadi dapat dijadikan kekuatan untuk berkarya. Dengan kejujuran dan keberanian, ia berhasil menyentuh hati banyak orang yang mungkin juga merasakan hal yang sama. Satu Nama yang Sulit Ku Hapus bukan sekadar buku tentang patah hati, tetapi juga tentang penerimaan dan memahami perasaan yang kompleks.

Melalui podcast ini, diharapkan para pendengar, terutama generasi Z dan milenial, bisa terinspirasi untuk tidak hanya membaca, tetapi juga mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang kreatif. Dan siapa tahu, mungkin buku selanjutnya akan terlahir dari pengalaman mereka sendiri!

Kamu bisa memperoleh buku ini di toko buku Gramedia dan toko buku online kesayangan kamu. Ingat ya, jangan beli buku bajakan.