Kabar gembira buat kamu yang sudah lama menanti. Film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? resmi menggelar Gala Premiere pada 2 April 2026 pukul 16.00 WIB di XXI Epicentrum, Kuningan Jakarta dan akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 April 2026.
Film ini diadaptasi dari buku mega best seller karya Khoirul Trian yang sempat viral di TikTok sejak akhir 2024. Novel ini pertama kali terbit Oktober 2024 dan hanya butuh dua bulan untuk menjadi best seller, dan 8 bulan menjadi Mega Best Seller, bahkan hingga menembus pembaca di Malaysia dan menjadi buku Best Seller di sana.
Film ini mengisahkan sosok Dira, anak perempuan yang tumbuh bersama ayah yang selalu ada secara fisik, namun tak pernah benar-benar hadir secara emosional. Dira dan adiknya Darin dibesarkan di rumah yang terlihat hangat dari luar, namun menyimpan banyak diam dan janji yang tak terpenuhi.
Tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi sekarang. Novel ini membahas fenomena fatherless yang cukup tinggi di Indonesia — sebuah luka yang selama ini banyak dipendam dan belum sempat disuarakan.
Film ini disutradarai Kuntz Agus dan diproduksi Five Elements Pictures berkolaborasi dengan IFI Sinema, A&Z Films, dan Leo Pictures. Dibintangi Mawar De Jongh, Rey Bong, Dwi Sasono, Unique Priscilla, Baskara Mahendra, Kiara McKenna, dan Dinda Kanya Dewi.
Bagi kamu yang sudah baca bukunya, film ini akan menjadi pengalaman yang lebih dalam lagi. Dan kalau belum — mungkin inilah saat yang tepat untuk memulainya sebelum film tayang.
Kehidupan sebagai generasi milenial sering kali diwarnai dengan tekanan yang datang dari berbagai arah. Salah satunya adalah peran sebagai tulang punggung keluarga, di mana banyak dari kita yang merasa harus mengorbankan diri demi orang lain. Tak jarang, kita merasa lelah, bingung, dan bahkan hilang arah. Namun, ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari perjalanan ini.
Khoriul Trian, seorang penulis yang baru saja merilis buku terbarunya berjudul Ayah Ini Arahnya ke Mana Ya, berbagi kisah tentang bagaimana dirinya sebagai anak harus berjuang keras untuk keluarganya. Sampai saat ini buku ini telah terjual 26.000 eksemplar, mencatat penjualan bestseller dalam waktu cepat.
Dalam kisah ini, Trian mengungkapkan perasaan yang sering dirasakan oleh banyak milenial, terutama mereka yang harus menjadi tumpuan hidup bagi orang tua. Rasa capek, bingung, dan bahkan kehilangan arah kerap menghampiri, tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: kita tidak berjuang hanya untuk diri kita sendiri.
Trian menekankan bahwa menjadi tulang punggung keluarga bukanlah tugas yang mudah. Terkadang, meskipun kita sudah berusaha keras, hasil yang didapatkan tidak selalu sebanding. Namun, seperti yang diungkapkan Trian, perjuangan ini bukanlah untuk diri sendiri semata. Kita berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi orang tua, adik, dan keluarga yang kita cintai. Tentu saja, ini membutuhkan kekuatan yang tidak sedikit.
Namun, Trian juga mengingatkan kita bahwa meskipun harus kuat untuk orang lain, kita tidak boleh melupakan diri sendiri. Kesehatan, baik fisik maupun mental, sangat penting dalam menjalani hidup yang penuh tantangan ini. Milenial seringkali terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tanggung jawab lainnya, hingga lupa untuk menjaga diri. Ini adalah pelajaran yang perlu diingat: jangan biarkan dirimu terjebak dalam rutinitas yang menguras energi tanpa memberi ruang untuk diri sendiri.
Selain itu, Trian juga berbicara tentang rasa rindu terhadap masa kecil yang penuh keceriaan dan kebersamaan dengan keluarga. Rasa rindu ini mengingatkan kita bahwa hidup yang penuh tekanan bukanlah hal yang ingin kita alami terus-menerus. Namun, kita juga tahu bahwa perjalanan hidup ini tak bisa dihindari. Sebagai generasi milenial, kita harus siap menghadapi kenyataan dan terus berjuang meski banyak hal yang berubah.
Pesan utama yang bisa kita petik dari cerita ini adalah pentingnya untuk tetap bertahan dan menjaga kesehatan mental, meskipun hidup terasa berat. Sebagai anak yang menjadi tulang punggung keluarga, kita memang harus kuat, tetapi kita juga harus menjaga keseimbangan dalam hidup. Jangan biarkan perjuangan untuk orang lain mengorbankan diri kita sendiri. Kita berhak untuk bahagia dan merawat diri.
Jika kamu merasa lelah dan butuh dukungan, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Kita semua berjuang dengan cara kita masing-masing, dan itu sudah cukup.
Simak kisah selengkapnya dalam buku Ayah, Ini Arahnya Ke mana Ya? Dapatkan di toko buku Gramedia dan marketplace kesayangan kamu.
Yuk membeli buku yang asli, bukan buku bajakan, ini merupakan bentuk apresiasi terhadap penulis dan penerbit, serta ekosistem perbukuan di Indonesia.