Fenomenal film “AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?” benar-benar tak terbendung! Telah disaksikan oleh lebih dari 1.000.000 lebih penonton di seluruh bioskop Indonesia. Baru saja tayang di bioskop dalam 12 hari ini, kisah hangat antara ayah dan anak ini sukses menguras air mata dan memenangkan hati masyarakat.
Sebagai bentuk apresiasi atas antusiasme yang luar biasa ini, Penerbit Gradien dan toko buku Gramedia mempersembahkan promo spesial bagi Kamu yang ingin menyelami ceritanya lebih dalam.
Melalui kampanye #BACABUKUNYASETELAHNONTONFILMNYA, Kamu bisa mendapatkan Diskon 10% untuk pembelian buku aslinya hanya dengan menunjukkan tiket nonton Kamu!
Cara Mendapatkan Potongan Harga di Toko Buku Gramedia
Mendapatkan diskon ini sangat simpel, semudah membawa kenangan manis dari bioskop ke rak buku Kamu:
Tunjukkan Tiket: Bawa tiket fisik atau tunjukkan e-ticket film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? ke kasir Gramedia.
Klaim Potongan Harga: Dapatkan langsung potongan 10% tanpa minimum transaksi untuk judul buku tersebut.
Lokasi: Berlaku di seluruh gerai Gramedia se-Indonesia.
Lengkapi Pengalaman Emosional Kamu
Mengapa satu juta orang lebih memilih menonton film ini? Karena kekuatan ceritanya. Namun, pengalaman Kamu belum lengkap jika belum menyentuh lembaran bukunya. Versi literasi menawarkan:
Detail yang Lebih Intim: Menyelami isi pikiran sang Ayah yang tidak sempat terucap di film.
Imajinasi Tanpa Batas: Merasakan kembali adegan-adegan ikonik melalui narasi tulisan yang puitis dan mendalam.
Koleksi Bersejarah: Memiliki bukti fisik dari karya yang telah menjadi fenomena box office tahun ini.
Jangan sampai ketinggalan! Simpan potongan tiketmu. Segera kunjungi Gramedia terdekat, tunjukkan tiket Kamu, dan bawa pulang buku yang telah menginspirasi jutaan orang ini dengan harga spesial.
Nggak nyangka sih, tapi ini nyata — film Ayah Ini Arahnya Ke Mana, Ya? (2026) resmi tembus 1 juta penonton per Senin, 20 April 2026. Cuma 12 hari tayang, loh! Itu berarti rata-rata hampir 100 ribu orang nonton per hari. Alhamdulillah. Keren banget.
Film garapan Kuntz Agus ini emang bukan film biasa. Ceritanya deket banget sama kehidupan kita — soal hubungan ayah dan anak yang kadang awkward, jarang ngobrol, tapi sebenernya penuh rasa sayang yang nggak keucap. Siapa yang nggak relate, coba?
Banyak yang udah nonton bilang filmnya bikin ketawa sekaligus nangis. Tipe film yang abis nonton langsung pengen nelpon bokap, deh. Vibes-nya hangat, relate, dan dapet banget di hati.
Belum nonton? Yuk buruan ke bioskop!
Ini bukan lebay — film kayak gini jarang ada. Yang ringan tapi ngena, yang lucu tapi juga bikin mewek di kursi bioskop sambil pura-pura elap keringat. Ajak bokap, nyokap, adik, atau siapapun yang penting kamu nggak nonton sendirian dan malah makin baper.
Plus, ada bonusnya!
Film ini diadaptasi dari buku dengan judul yang sama karya Khoirul Trian— yang udah duluan viral dan bikin banyak orang senyum-senyum sendiri pas bacanya. Kalau filmnya aja udah sebagus ini, bayangin serunya baca versi bukunya yang lebih detail dan personal.
Buku “Ayah Ini Arahnya Ke Mana, Ya?” bisa kamu dapetin sekarang — cocok banget dijadiin hadiah buat bokap, atau buat kamu yang pengen ngerasain ceritanya lebih dalam.
Kabar gembira buat kamu yang sudah lama menanti. Film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? resmi menggelar Gala Premiere pada 2 April 2026 pukul 16.00 WIB di XXI Epicentrum, Kuningan Jakarta dan akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 April 2026.
Film ini diadaptasi dari buku mega best seller karya Khoirul Trian yang sempat viral di TikTok sejak akhir 2024. Novel ini pertama kali terbit Oktober 2024 dan hanya butuh dua bulan untuk menjadi best seller, dan 8 bulan menjadi Mega Best Seller, bahkan hingga menembus pembaca di Malaysia dan menjadi buku Best Seller di sana.
Film ini mengisahkan sosok Dira, anak perempuan yang tumbuh bersama ayah yang selalu ada secara fisik, namun tak pernah benar-benar hadir secara emosional. Dira dan adiknya Darin dibesarkan di rumah yang terlihat hangat dari luar, namun menyimpan banyak diam dan janji yang tak terpenuhi.
Tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi sekarang. Novel ini membahas fenomena fatherless yang cukup tinggi di Indonesia — sebuah luka yang selama ini banyak dipendam dan belum sempat disuarakan.
Film ini disutradarai Kuntz Agus dan diproduksi Five Elements Pictures berkolaborasi dengan IFI Sinema, A&Z Films, dan Leo Pictures. Dibintangi Mawar De Jongh, Rey Bong, Dwi Sasono, Unique Priscilla, Baskara Mahendra, Kiara McKenna, dan Dinda Kanya Dewi.
Bagi kamu yang sudah baca bukunya, film ini akan menjadi pengalaman yang lebih dalam lagi. Dan kalau belum — mungkin inilah saat yang tepat untuk memulainya sebelum film tayang.
Bayangin kamu lagi duduk di kamar, scroll TikTok malem-malem, terus nemu video puisi dengan suara lembut yang bikin hati kejepit. Kata-katanya sederhana, tapi ngena banget—ngomongin rindu, kehilangan, sama perjuangan yang gak kelar-kelar. Itu pertama kali gue “ketemu” Reza Mustofa, cowok 26 tahun yang sekarang jadi penulis buku *Bu, Aku Ingin Pelukmu*. Buku ini rilis pas Hari Ibu, 22 Desember 2024, dan entah kenapa, rasanya kayak dipeluk sekaligus ditonjok—bikin hati hangat tapi juga perih.
Reza bukan tipe penulis yang dari kecil udah nenteng buku diary. Dia anak rantau biasa, kerja full-time di ibu kota, pulang capek, dan cuma pengin rebahan. Tapi dari TikTok, dia mulai tuang puisi, trus bikin buku pertama, *Patah Tumbuh Sembuh* (2022), yang penuh vibe romansa-self-improvement. Nah, buku keduanya ini beda—fokus ke keluarga, khususnya ibu. Judulnya? Muncul spontan pas nongkrong di coffee shop bareng timnya: “Bu, Aku Ingin Pelukmu”. Simpel, tapi dalem.
Rindu yang Gak Pernah Selesai
Gue coba bayangin jadi Reza. Kamu kehilangan ibu pas umur 1,5 tahun—bayi yang bahkan belum bisa bilang “Ibu” dengan jelas. Memori Kamu cuma samar: sosok wanita kuat, terbaring di ruang tamu, ditutup kain putih, gak bernapas. Tetangga bilang, “Mamanya tidur, main aja.” Kamu kecil banget, tapi udah ditabok sama kehilangan yang Kamu gak ngerti. Foto ibu? Sampai sekarang Reza masih cari yang bener-bener jelas, tapi gak ketemu. Rindu itu cuma bisa dipendem, dan buku ini jadi cara dia “ngobrol” sama ibu yang udah gak ada.
Di halaman 132, dia nulis: *“Bu, aku pernah menahan lapar hanya karena takut besok gak bisa makan. Kuat dan sabarku sekarang adalah doa yang Ibu sampaikan langsung kepada Tuhan.”* Baca ini, gue mikir: kita yang masih punya ibu sering lupa bilang “Bu, aku pulang” atau cuma cerita, “Hari ini capek banget.” Reza? Dia cuma bisa bayangin ibunya di atas sana, doain dia sambil tersenyum. “Doa ibu ngalir di darah gue,” katanya. Gila, dalem banget.
Struggle Anak Rantau
Reza cerita, nulis buku ini gak gampang. Bayangin Kamu kerja 9-to-5, pulang cuma pengin tidur, tapi otak Kamu masih penuh sama deadline sama luka lama. Dia mulai cicil naskah dari November 2023, tapi baru kelar 2024—setahun penuh drama sama emosi. “Pulang kerja capek, energi buat nulis habis,” katanya. Tapi dia gak mau nyerah. Buku pertama udah lahir, pembaca nunggu karya baru, jadi dia push diri sendiri.
Yang bikin nulisnya berat, dia harus buka luka soal keluarga. Salah satunya momen pas kakeknya (dia panggil “Abah”) meninggal. Waktu SMP, Abah sakit, keluarga kumpul tengah malem. Neneknya nyuruh tidur karena besok sekolah. “Gue tidur, jam 3 pagi kaget bangun—Abah udah gak ada,” ceritanya. Penyesalan itu nempel: “Kenapa gue gak nemenin?” Dia tuang emosi itu ke buku, часто sambil nangis. Kamu bisa bayangin gak, nulis sambil netes air mata, cuma biar luka itu jadi cerita yang nyanyi ke orang lain?
Bapak dan Ikhlas yang Pelan
Trus, hubungan sama bapaknya? Reza jujur: “Sempet benci.” Pas ibu meninggal, bapak cepet nikah lagi. “Kenapa gak nunggu gue gede, tanya gue dulu?” katanya waktu kecil. Tapi pas dewasa, dia ngerti: “Bapak juga butuh temen.” Sekarang, dia coba baikan, meski bapak baru tahu bukunya pas PO. “Bapak bangga gue survive di kota orang,” ujarnya. Di buku ini, ada sisipan soal bapak, tapi gak terlalu dalem—mungkin karena Reza udah pelan-pelan ikhlas.
Chapter di bukunya kayak perjalanan: dari struggle jadi anak rantau sendirian, sampe akhirnya nerima kehilangan. “Gak semua tentang kehilangan itu buruk. Proses ini yang bikin gue kuat,” katanya. Tapi dia juga manusia—pernah nanya, “Kenapa harus gue, Tuhan?” Kerennya, dia jawab sendiri: “Ini yang terbaik buat Kamu.”
Rapuh Tapi Nyata
Halaman 55 bikin gue speechless: *“Bu, bolehkah aku menangis? Bisakah aku jeda dari perasaan sakit ini? Bolehkah aku bilang ke dunia bahwa aku gak sekuat itu?”* Reza bilang, orang liat dia kuat—survive di ibu kota, kerja keras, mandiri. Tapi di dalem? “Gue pengin ditanya, ‘Udah makan belum? Gimana kabar Kamu?’” Perhatian kecil yang kita sering anggap remeh, buat dia jadi mimpi.
Dia gak takut nangis, bro. “Cowok nangis? Wajar. Emosi itu manusiawi,” katanya. Awal bikin konten, dia dikira “lebai” sama netizen. Sempet down, pengin berhenti. Tapi pas banyak yang bilang, “Kak, kata-katamu bikin gue bangkit,” dia balik gaspol. “Itu bayaran terbaik buat konten kreator,” ujarnya.
Pesan buat Kita
Reza pengin buku ini jadi pengingat: manfaatin waktu sama orang tua. “Buat yang masih punya ibu, peluk, cerita, bikin memori. Yang udah kehilangan, buku ini bisa wakilin rindu Kamu,” katanya. Dia yakin ibunya di atas sana lagi cantik, doain dia. “Kita yang hidup juga harus doain ibu,” tambahnya.
Kenapa Kamu Harus Baca Buku Ini?
Bu, Aku Ingin Pelukmu campur cerita panjang sama prosa pendek—bikin Kamu yang lagi quarter-life crisis atau ngerasa sendiri di perantauan bakal ngerasa “ini gue banget”. Buku ini kayak sahabat yang dengerin Kamu diam-diam, sambil bilang, “Gak apa, Kamu gak sendiri.”
Mau beli? Cek Bumi Fiksi, Republik Fiksi, atau Jda Bookstore di marketplace. PO udah selesai, tapi reguler masih ada—buruan sebelum kehabisan!
Kamu pernah ngerasa kayak Reza? Rindu yang cuma bisa dipendem, atau struggle yang kamu pendem sendiri? (red-gr)
Artikel di atas fokus ke sudut pandang anak muda yang membayangkan perjalanan Reza—dari TikTok, kehilangan ibu, hubungan sama bapak, sampe ikhlas lewat tulisan bergaya naratif yang lebih personal. Kamu juga bisa menyimak podcast bersama Reza Mustopa di bawah ini:
Halo, guys! Kalian pernah ngerasa stuck di hidup, bingung mau cerita ke siapa, atau malah ngerasa semua beban ada di pundak kalian? Nah, di episode terbaru podcast Behind the Book bareng Fatwa dari Gradien Media, ada tamu spesial: Dandy Arifin, penulis buku “Pak Bu, Bantu Aku Lewat Doamu”. Buku ini bener-bener bikin hati bergetar, apalagi buat kita yang usianya 20-an, lagi nyari jati diri sambil ngadepin drama hidup.
Dandy, yang dikenal lelet suaranya yang sendu banget di TikTok dan Instagram, bawa cerita yang gak cuma bikin merinding, tapi juga relate buat banyak anak muda. Yuk, kita intip apa sih yang dia bagi di siniar ini dan kenapa bukunya wajib banget masuk wishlist kalian!
Dari Konten Keren ke Buku Penuh Makna
Dandy awalnya bukan penulis buku, bro. Dia mulai dari bikin konten di TikTok sama Instagram dengan nama “Dini Hari”. Keren, kan? Nama ini ternyata punya filosofi: dini hari itu momen tenang buat ngaca sama diri sendiri, pas orang lain udah pada tidur. Awalnya, dia cuma pake suara sendu tanpa nunjukin muka—pure footage random kayak jalanan atau apa aja, cuma buat nyanyi perasaan yang dia pendam.
“Gue bikin konten biar lega,” kata Dandy. Dua tahun dia konsisten, sampe akhirnya berani nunjukin muka setelah dapet saran dari temen dan konten kreator lain. Dari situ, perjalanan dia malah nyampe ke Gradien Media, dan sekarang udah nulis tiga buku! Buku pertamanya Kita Bukan Ujung Cerita (romansa), kedua Kita Terlalu Lucu untuk Diseriusin (kolaborasi), dan yang ketiga ini—Pak Bu, Bantu Aku Lewat Doamu—tema keluarga yang dalem banget.
Jadi Jembatan Lewat Tulisan
Buku ini beda dari yang sebelumnya. Kalau biasanya Dandy nulis romansa, sekarang dia cerita soal keluarga, khususnya dari sudut pandang cowok bungsu yang gengsi buat jujur sama orang tua. “Cowok kan gengsi bilang apa yang dirasa ke bokap-nyokap. Lewat buku ini, gue coba jadi jembatan—buat gue sendiri, juga buat yang baca,” ujarnya.
Dandy bilang, ngomong sama orang tua tuh susah banget, bahkan cuma buat bilang, “Pak, sehat-sehat ya,” atau “Hari ini capek banget, gimana nih?” Di keluarganya, ngobrol terbuka gitu bukan kebiasaan. Makanya, buku ini jadi media dia nyanyi ketakutan, harapan, sampe perjuangan buat orang tua—semua yang gak bisa dia ucap langsung.
Sandwich Generation: Beban yang Gak Pilih Kasih
Buat kalian yang di usia 20-an dan ngerasa jadi “tumpuan keluarga”, cerita Dandy bakal ngena banget. Dia bungsu dari dua bersaudara, kakaknya udah nikah dan pisah rumah, jadi sekarang semua harapan orang tua ada di dia—secara finansial, emosional, sampe status sosial. “Semua tumpuan di gue. Mau ke mana lagi mereka?” katanya pasrah.
Dandy cerita, keluarganya dulu sering direndahin karena ekonomi pas-pasan. Kakaknya mulai ngangkat derajat keluarga lewat kerja keras, dan sekarang giliran Dandy nerusin. “Keluarga gue pake metode balas dendam,” candanya. Bukan dendam beneran, tapi semangat buat buktiin ke orang-orang bahwa mereka bisa lebih baik. Tapi, beban ini berat banget—dia sampe bilang, “Gue jadi penyempurna dari apa yang kakak mulai.”
Inner Child yang Gak Pernah Sembuh
Yang bikin hati nyesek, Dandy cerita dia gak pernah ngerasa jadi anak kecil beneran. Bayangin, di umur 5 tahun, dia udah lihat ibunya ditagih utang sampe dimarahin orang. “Ibu selalu nyuruh gue masuk kamar pas ada yang dateng gitu,” kenangnya. Dia juga gak pernah punya sepeda, gak pernah ngerasa dituntun bokap belajar sepeda, atau dibopong ke kamar pas ketiduran di depan TV—hal-hal simpel yang banyak anak lain punya.
“Gue cuma bisa ngeliat temen main sepeda dari pintu kontrakan,” ujarnya. Inner child-nya sampe sekarang masih “meraung”, katanya. Bahkan kalo liat anak kecil dibeliin mainan sama bapaknya, dia suka ngerasa, “Beruntung banget mereka.” Walau sekarang dia udah bisa beli apa aja, momennya gak bakal balik—dan itu fakta yang dia akui bikin sedih.
Titik Balik yang Ngebakar Semangat
Ada satu momen yang bikin Dandy bertekad gak mau liat keluarganya susah lagi. Waktu kelas 5 SD, dia gak dapet buku paket gara-gara belum bayar SPP. Ibunya dateng ke sekolah, dan di depan matanya sendiri, ibunya dimaki guru. “Kamu niat nyekolahin anak apa enggak? Utang kemarin aja belum lunas!” Begitu kata gurunya. Dandy geram, “Kok lu bisa maksa ibu gue di depan gue?”
Dari situ, dia janji sama diri sendiri: lulus sekolah, dia harus ngangkat derajat orang tua setinggi-tingginya. “Gue gak mikir ‘sampe kapan’. Yang penting mereka dulu, gue mah gampang,” katanya. Tapi, di balik semangat itu, dia jujur: “Capek, cuma gak bisa berhenti.”
Quote yang Bikin Freez
Salah satu tulisan Dandy yang dibacain Fatwa di podcast bikin kita semua speechless:
“Bu, kalau boleh jujur aku capek. Harus menyelesaikan semuanya sendirian. Aku kadang pengin menyerah, Bu. Tapi kalau aku nyerah, siapa nanti yang bahagiain Ibu? Bu, aku takut aku kesepian. Aku takut dibunuh sepi, aku takut atas pikiranku sendiri, dan aku takut mati di tanganku sendiri.”
Ini ditulis di momen dia bener-bener capek, tapi gak punya pilihan selain lanjut. “Kenapa harus gue?” tanyanya dalam hati. Tapi jawabannya simpel: “Kalau bukan gue, siapa lagi?”
Pesan buat Kita yang Relate
Buat kalian yang ngerasa jadi sandwich generation atau punya inner child yang belum sembuh, Dandy cuma bilang, “Lakuin yang terbaik aja. Kita gak punya pilihan lain.” Realistis banget, kan? Tapi di balik itu, dia nunjukin bahwa nerima keadaan itu proses panjang—dan gak apa-apa kalo kita capek, asal jangan nyerah.
Quote favoritnya dari buku ini juga dalem banget:
“Aku ikhlas, Bu. Waktu di hari kelulusanku, Ibu bilang, ‘Ibu sama Bapak cuma mampu sampai sini aja, ya. Kalau mau lanjut, nanti biaya sendiri.’ Sungguh, Bu, aku ikhlas. Tapi kalau boleh jujur, aku juga mau pakai almamater.”
Nyesek, tapi bikin kita mikir: seberapa jauh kita rela berkorban buat orang tersayang?
Kenapa Harus Baca Buku Ini?
“Pak Bu, Bantu Aku Lewat Doamu” bukan cuma cerita Dandy, tapi cermin buat kita yang lagi struggle di usia 20-an—ngadepin ekspektasi keluarga, tekanan ekonomi, sampe luka masa kecil yang masih nyanyi. Ditulis dengan effort gede, buku ini penuh “bawang” tapi juga pelajaran hidup yang bikin mata kita terbuka.
Mau beli? Cus ke marketplace atau toko buku online kayak Buku Jda Bookstore, Republik Fiksi, atau Bumi Fiksi. Jangan bajakan ya, guys—dukung literasi Indonesia dan penulis keren kayak Dandy!
So, apa pendapat kalian tentang cerita ini? Pernah ngerasa di posisi Dandy juga?
Kehidupan sebagai generasi milenial sering kali diwarnai dengan tekanan yang datang dari berbagai arah. Salah satunya adalah peran sebagai tulang punggung keluarga, di mana banyak dari kita yang merasa harus mengorbankan diri demi orang lain. Tak jarang, kita merasa lelah, bingung, dan bahkan hilang arah. Namun, ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari perjalanan ini.
Khoriul Trian, seorang penulis yang baru saja merilis buku terbarunya berjudul Ayah Ini Arahnya ke Mana Ya, berbagi kisah tentang bagaimana dirinya sebagai anak harus berjuang keras untuk keluarganya. Sampai saat ini buku ini telah terjual 26.000 eksemplar, mencatat penjualan bestseller dalam waktu cepat.
Dalam kisah ini, Trian mengungkapkan perasaan yang sering dirasakan oleh banyak milenial, terutama mereka yang harus menjadi tumpuan hidup bagi orang tua. Rasa capek, bingung, dan bahkan kehilangan arah kerap menghampiri, tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: kita tidak berjuang hanya untuk diri kita sendiri.
Trian menekankan bahwa menjadi tulang punggung keluarga bukanlah tugas yang mudah. Terkadang, meskipun kita sudah berusaha keras, hasil yang didapatkan tidak selalu sebanding. Namun, seperti yang diungkapkan Trian, perjuangan ini bukanlah untuk diri sendiri semata. Kita berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi orang tua, adik, dan keluarga yang kita cintai. Tentu saja, ini membutuhkan kekuatan yang tidak sedikit.
Namun, Trian juga mengingatkan kita bahwa meskipun harus kuat untuk orang lain, kita tidak boleh melupakan diri sendiri. Kesehatan, baik fisik maupun mental, sangat penting dalam menjalani hidup yang penuh tantangan ini. Milenial seringkali terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tanggung jawab lainnya, hingga lupa untuk menjaga diri. Ini adalah pelajaran yang perlu diingat: jangan biarkan dirimu terjebak dalam rutinitas yang menguras energi tanpa memberi ruang untuk diri sendiri.
Selain itu, Trian juga berbicara tentang rasa rindu terhadap masa kecil yang penuh keceriaan dan kebersamaan dengan keluarga. Rasa rindu ini mengingatkan kita bahwa hidup yang penuh tekanan bukanlah hal yang ingin kita alami terus-menerus. Namun, kita juga tahu bahwa perjalanan hidup ini tak bisa dihindari. Sebagai generasi milenial, kita harus siap menghadapi kenyataan dan terus berjuang meski banyak hal yang berubah.
Pesan utama yang bisa kita petik dari cerita ini adalah pentingnya untuk tetap bertahan dan menjaga kesehatan mental, meskipun hidup terasa berat. Sebagai anak yang menjadi tulang punggung keluarga, kita memang harus kuat, tetapi kita juga harus menjaga keseimbangan dalam hidup. Jangan biarkan perjuangan untuk orang lain mengorbankan diri kita sendiri. Kita berhak untuk bahagia dan merawat diri.
Jika kamu merasa lelah dan butuh dukungan, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Kita semua berjuang dengan cara kita masing-masing, dan itu sudah cukup.
Simak kisah selengkapnya dalam buku Ayah, Ini Arahnya Ke mana Ya? Dapatkan di toko buku Gramedia dan marketplace kesayangan kamu.
Yuk membeli buku yang asli, bukan buku bajakan, ini merupakan bentuk apresiasi terhadap penulis dan penerbit, serta ekosistem perbukuan di Indonesia.
Halo, teman baca! Artikel berikut ini diambil dari podcast Behind the Book, siniar tempat kita menyelami lebih dalam proses kreatif di balik sebuah buku. Episode kali ini terasa istimewa karena kita kembali menghadirkan Kak Trian, penulis yang telah sukses menjadikan bukunya, Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya?, sebagai bestseller hanya dalam waktu tujuh hari. Ini adalah kali ketiga Kak Trian bergabung di siniar ini, dan pencapaiannya kali ini sungguh menginspirasi.
Perjalanan Panjang Menuju Kesuksesan
Ketika ditanya apakah kesuksesan ini mengejutkan, Kak Trian dengan jujur mengungkapkan bahwa meskipun optimis, perjalanan ini bukanlah tanpa lika-liku. Ia berbagi bahwa selama beberapa tahun terakhir, ia telah mengalami berbagai fase berat, termasuk kegagalan dalam lima buku sebelumnya. Namun, baginya kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses.
“Aku selalu merasa setiap buku yang kutulis mendapat porsi usaha 100%. Namun, kali ini mungkin doa ibu yang membuat perbedaan besar,” ujarnya, penuh haru.
Buku yang Menyentuh Banyak Hati
Apa yang membuat Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya? begitu spesial? Kak Trian menjelaskan bahwa buku ini bukan hanya kisah tentang seorang anak yang kehilangan peran ayah, tetapi juga menggambarkan perspektif ayah yang kehilangan peran anak. Buku ini mencoba memberikan sudut pandang yang seimbang, membahas hubungan antara orang tua dan anak dari dimensi masa lalu, masa kini, dan masa depan.
“Kita sering lupa bahwa orang tua kita hidup di zaman yang berbeda. Kita menuntut mereka memahami dunia kita tanpa mencoba memahami dunia mereka dulu,” kata Kak Trian.
Manifestasi Sebuah Nama
Menariknya, nama “Trian” sendiri memiliki makna mendalam. Ayahnya memberikan nama itu sebagai doa agar ia menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Kak Trian melihat nama ini sebagai dorongan untuk terus berkarya dan berbagi lewat tulisan-tulisannya.
Strategi di Balik Kesuksesan
Ketika membahas strategi, Kak Trian menekankan pentingnya konsistensi dan keikhlasan dalam setiap proses. Ia percaya bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk berusaha sebaik mungkin. Selain itu, ia juga merasa bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari doa dan dukungan keluarga, terutama sang ibu.
Pesan Mendalam untuk Pembaca
Melalui buku ini, Kak Trian ingin mengingatkan pembacanya tentang pentingnya menghargai perbedaan generasi dan menerima takdir sebagai bagian dari ujian kehidupan. Sebuah pesan yang sangat relevan dan menyentuh, terutama bagi mereka yang tengah menghadapi dinamika keluarga.
“Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya?” bukan hanya sebuah buku, tetapi juga pelukan hangat bagi siapa saja yang merasa lelah dan kehilangan arah. Semoga kisah ini bisa menginspirasi banyak orang untuk terus berjuang dan menemukan kebahagiaan dalam prosesnya. Kamu sudah membaca buku ini? Bagi yang belum, yuk temukan di toko buku Gramedia atau toko buku online.
Kisah di Balik Buku Keenam Khoriul Trian: Doa Ibu dan Pesan Tentang Ayah
Khoirul seorang penulis muda yang telah menelurkan lima buku sebelumnya, kembali hadir dengan karya keenamnya yang mengangkat tema keluarga. Kali ini, ia memilih fokus pada sosok ayah, peran yang seringkali terlupakan atau hanya dilihat dari permukaan. Namun, ada kisah menarik di balik lahirnya buku ini. Trian merasa keberhasilan proses kreatifnya tidak lepas dari doa sang ibu, yang selalu hadir di setiap langkah hidupnya.
Dalam buku terbarunya, Trian mengajak pembaca menyelami tiga dimensi waktu: hari ini, nanti, dan esok. Ia ingin menunjukkan bagaimana luka, peran, dan persiapan masa depan keluarga saling berkaitan. Melalui berbagai cerita yang dirangkum dengan gaya naratif khasnya, Trian berusaha menghadirkan perspektif yang seimbang antara peran ayah dan anak, serta bagaimana hubungan tersebut dibentuk oleh dinamika waktu dan pengalaman hidup.
Trian mengaku bahwa kisah-kisah dalam buku ini banyak terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Salah satu momen yang ia bagikan adalah rasa kecewa saat mengetahui ayahnya lupa ulang tahunnya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami bahwa di masa ayahnya tumbuh dewasa, perayaan ulang tahun bukanlah sesuatu yang dianggap penting. Perspektif ini memberinya pelajaran bahwa perbedaan generasi kerap membentuk cara pandang yang berbeda dalam menilai sebuah hubungan.
Buku ini juga menjadi refleksi bagi Trian tentang sosok ayahnya. Meski hanya berpendidikan hingga sekolah dasar, ayahnya adalah simbol keteguhan dan pengorbanan. Trian melihat bagaimana ayahnya berjuang keras, mengorbankan mimpi pribadinya demi memastikan adik-adiknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Trian kerap dihadapkan pada ekspektasi yang tinggi, yang di satu sisi membentuk karakter tangguh, namun di sisi lain juga menimbulkan jarak emosional dengan sang ayah.
Meski hubungan mereka tidak selalu mulus, Trian menyadari bahwa setiap keputusan yang diambil ayahnya selalu didasari niat baik. Dalam tulisannya, ia menggambarkan ayah sebagai sosok yang mungkin tidak selalu mampu mengekspresikan cinta dengan kata-kata, namun menunjukkan kasih sayangnya melalui tindakan kecil yang sering luput dari perhatian.
Melalui buku ini, Trian berharap pembaca dapat merenungkan kembali peran ayah dalam hidup mereka. Ia ingin menekankan bahwa orang tua, dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, tetaplah manusia yang berusaha memberikan yang terbaik sesuai dengan pemahaman mereka. Buku ini juga mengajak pembaca untuk belajar memaafkan dan memahami bahwa tidak ada hubungan yang sempurna, tetapi selalu ada ruang untuk memperbaiki dan menghargai momen bersama.
Bagi Trian, buku keenamnya ini bukan hanya sekadar karya, tetapi juga bentuk penghargaan atas perjalanan hidupnya bersama keluarga. Ia berharap karyanya dapat menjadi medium refleksi bagi para pembaca, khususnya generasi milenial, yang tengah berupaya memahami dinamika hubungan keluarga di tengah perubahan zaman. Dengan gaya bahasa yang hangat dan menyentuh, buku ini menjadi pengingat bahwa keluarga, meski penuh konflik dan perbedaan, selalu menjadi tempat kita kembali.
Apa Makna Ayah bagi Khoirul Trian?
Khoirul Trian, penulis buku bestseller Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?—Anak Kecil Ini Kehilangan Jalan Pulangnya, menggambarkan ayah sebagai sosok penting yang membentuk dirinya. Dalam sebuah wawancara, Trian mengungkapkan bahwa ayah adalah alasan keberadaannya di dunia, seseorang yang menjadi refleksi dirinya. Ia sering disebut sebagai “fotokopian” ayahnya, baik dari segi fisik maupun sifat. Hal ini menjadi kebahagiaan tersendiri baginya, meski di saat tertentu dapat memicu konflik karena karakter keras kepala yang serupa.
Trian menceritakan kekagumannya pada ayah yang merupakan bagian dari *sandwich generation*. Ayahnya, anak kelima dari sembilan bersaudara, hanya lulus SD tetapi mampu menyekolahkan adik-adiknya hingga perguruan tinggi. Pengorbanan besar ini dilakukan dengan mengubur mimpinya sendiri, bekerja serabutan seperti berjualan pisang di pasar. Bagi Trian, ayahnya adalah simbol kehebatan dan tanggung jawab.
Lebih dari itu, Trian mengapresiasi cara ayahnya mendidik. Sang ayah tidak memberinya instruksi langsung, tetapi membiarkannya belajar dari pengalaman. “Kalau penasaran, coba saja,” ujar Trian, mengutip prinsip ayahnya. Salah satu momen yang berkesan adalah ketika Trian hampir tenggelam saat belajar berenang sendiri di laut. Pengalaman itu mengajarinya bahwa untuk tumbuh, seseorang harus “nyebur dulu” ke dalam tantangan hidup.
Trian juga memberikan pandangan mendalam tentang fenomena *fatherless*. Menurutnya, separuh dari tubuh kita adalah ayah, sehingga sekalipun ayah tidak selalu hadir secara fisik atau emosional, kehadirannya tetap terasa. “Kalau rindu ayah, peluk diri sendiri,” katanya. Dalam bukunya, ia menuliskan, “Tolong titip tubuhmu yang separuhnya tubuh Ayah,” sebagai pengingat bahwa sosok ayah selalu ada dalam diri kita.
Trian juga berbicara tentang keberkahan dari perhatian orang tua yang sering kali disalahartikan sebagai larangan berlebihan. Ia menyadari bahwa kebebasan tanpa arahan terkadang justru membuat seseorang merindukan perhatian.
Lewat karyanya, Trian berusaha menginspirasi pembaca untuk lebih menghargai sosok ayah, baik dalam kehadiran maupun absensinya. Pesan-pesan ini, bersama cerita pribadinya, menjadi refleksi yang mengajak kita merenungkan makna ayah dalam hidup.
Dapatkan buku Ayah Ini Arahnya ke Mana Ya di toko buku Gramedia dan marketplace kesayangan kamu. Eiit, beli buku yang asli, bukan buku bajakan.
Dalam podcast Behind The Book, hadir dan berbincang Rafi Ibadi penulis yang dikenal di balik akun @ruanggalau_id. Rafi baru saja merilis buku keduanya, Satu Nama yang Sulit Ku Hapus yang diterbitkan Gradien. Buku ini adalah lanjutan dari karya pertamanya, Aku Titip Dia, yang berhasil mencuri perhatian banyak pembaca, termasuk mereka yang jarang membaca.
Rafi mengungkapkan bahwa Satu Nama yang Sulit Ku Hapus masih mengusung tema kehilangan, cinta diam-diam, dan patah hati. Dalam obrolan di podcast, ia menceritakan bagaimana pengalaman pribadinya menjadi inspirasi utama dalam penulisan buku ini. “Buku ini terlahir dari luka yang saling melukai, bukan hanya aku, tetapi juga orang lain yang terlibat,” katanya.
Dia menceritakan bahwa perjalanan menulis buku ini tidak semudah yang dibayangkan. “Sebenarnya, aku lebih lancar menulis saat patah hati. Dua minggu cukup untuk menyelesaikan naskah ini, meskipun proses editingnya memakan waktu lebih lama,” tambahnya. Temanya yang emosional mungkin membuat beberapa orang merasa canggung untuk menulis, namun Rafi menemukan kekuatan dalam mengungkapkan perasaannya.
Menariknya, perjalanan Rafi sebagai penulis dimulai dari Twitter. Di masa pandemi, ia membuat platform RuangGalau di Twitter, tempat orang-orang bisa berbagi cerita dan pengalaman patah hati. “Banyak orang yang bercerita, dan aku olah menjadi tulisan yang ada dalam buku ini,” ujarnya. Seiring berjalannya waktu, popularitas Ruang Galau berkembang, dan ia pun ditawari oleh penerbit Gradien untuk menerbitkan buku.
Buku pertamanya, Aku Titip Dia, menjadi hit dan bahkan dicetak ulang beberapa kali. “Sekitar 8.000 eksemplar terjual, yang merupakan angka yang sangat baik untuk penjualan buku di kalangan pembaca muda,” jelasnya. Kini, setelah hiatus dan kembali dengan Satu Nama yang Sulit Ku Hapus, ia merasakan antusiasme yang sama dari para pembaca. “Responnya sangat positif, meski jarak antara buku pertama dan kedua cukup jauh.”
Rafi juga berbagi pandangannya tentang dunia penulisan dan media sosial. “Saat ini, TikTok menjadi platform yang lebih banyak digunakan, dan aku berusaha untuk tetap terhubung dengan pembaca di sana,” katanya. Meskipun mengalami tantangan, seperti keinginan untuk menulis tetapi harus sibuk dengan pekerjaan lain, ia tetap berkomitmen untuk berkarya.
Dalam bukunya, Rafi menjelaskan bahwa setiap bab menggambarkan perjalanan emosional yang dialami seseorang ketika berusaha melupakan cinta yang telah berlalu. “Bab pertama membahas tentang harapan yang belum pasti, sementara bab kedua menceritakan tentang bagaimana perasaan bisa semakin membekas meskipun sudah berusaha melepaskan,” tuturnya.
Kisah Rafi adalah contoh nyata bagaimana pengalaman pribadi dapat dijadikan kekuatan untuk berkarya. Dengan kejujuran dan keberanian, ia berhasil menyentuh hati banyak orang yang mungkin juga merasakan hal yang sama. Satu Nama yang Sulit Ku Hapus bukan sekadar buku tentang patah hati, tetapi juga tentang penerimaan dan memahami perasaan yang kompleks.
Melalui podcast ini, diharapkan para pendengar, terutama generasi Z dan milenial, bisa terinspirasi untuk tidak hanya membaca, tetapi juga mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang kreatif. Dan siapa tahu, mungkin buku selanjutnya akan terlahir dari pengalaman mereka sendiri!
Kamu bisa memperoleh buku ini di toko buku Gramedia dan toko buku online kesayangan kamu. Ingat ya, jangan beli buku bajakan.
Ketika berbicara soal pengaruh masa lalu dan pola asuh, kita sering mendengar bahwa pengalaman pribadi bisa membentuk cara seseorang membesarkan anaknya. Hal ini bukan cuma soal bagaimana kita mendidik, tetapi juga bagaimana kita mengolah pengalaman-pengalaman terdahulu agar tidak mengulangi siklus negatif. Banyak orang merasa ketakutan bahwa luka yang belum selesai bisa berdampak pada anak-anak mereka.
Contohnya, ada yang mulai menjaga hubungan dengan adik atau anak agar mereka bisa memahami perasaan negatif yang muncul, entah marah, sedih, atau rasa ingin diakui. Dalam prosesnya, seseorang belajar menjadi pendengar, mendengarkan curahan hati mereka tanpa menghakimi. Hal ini tentu tidak mudah dan membutuhkan kesabaran serta kesadaran diri.
Banyak juga yang merasa ada tekanan dari harapan orang tua, seperti keinginan menjadi TNI demi impian masa kecil yang belum terwujud. Meskipun mungkin terasa berat, beberapa orang tetap berusaha menjalani tes demi memenuhi harapan tersebut, berharap suatu hari bisa mencapai impian itu sambil tetap menjaga keseimbangan batin agar tidak memengaruhi anak-anak atau adik-adiknya.
Perlu diakui, cara mendidik anak di masa lalu dan sekarang memiliki perbedaan besar. Generasi sebelumnya cenderung keras dan disiplin, tetapi saat ini banyak yang mulai menyadari pentingnya pendekatan yang lebih lembut namun tegas. Generasi X mungkin masih memahami bahwa anak tidak harus dididik dengan kekerasan, tetapi dengan kasih sayang dan pemahaman. Sebagian dari kita merasa bersyukur atas pemahaman ini dan berharap generasi berikutnya bisa menerima pendekatan yang lebih bijaksana tanpa kehilangan nilai tegas dalam mendidik.
Membesarkan anak memang menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi yang tumbuh di tengah lingkungan keluarga yang keras. Namun, dari pengalaman itulah kita bisa belajar dan mulai menyesuaikan diri untuk menjadi lebih baik. Saat ini, generasi muda yang semakin peduli terhadap kesehatan mental dan pengembangan diri menjadi cerminan bahwa pengalaman tidak harus diulangi, tetapi bisa dijadikan pelajaran. Banyak yang mulai menyadari bahwa rantai siklus negatif seharusnya bisa dihentikan agar tidak diteruskan kepada anak-anak kita.
Terkadang kita merasa ada kesulitan dalam memperbaiki hubungan dan menerima masa lalu, apalagi jika pengalaman itu menyakitkan. Beberapa orang menganggap bahwa memaafkan atau melupakan adalah hal mudah, tetapi kenyataannya, setiap orang memiliki proses masing-masing dalam menyembuhkan luka batin. Ada yang memilih untuk tidak mengingatnya, namun bagi sebagian orang, luka itu bisa menjadi alasan untuk refleksi diri yang lebih dalam.
Dalam menghadapi perbedaan generasi dan gaya mendidik yang keras, penting bagi kita untuk memisahkan antara “tegas” dan “keras.” Tidak perlu marah atau kasar untuk mendisiplinkan anak, karena ketegasan bisa diterapkan tanpa kekerasan. Hal ini menjadi penting mengingat bahwa energi negatif dapat menular. Jika kita membawa beban emosional yang tidak selesai, energi tersebut bisa saja berdampak pada anak atau adik-adik kita.
Akhirnya, ketika kita berbagi cerita atau pengalaman, baik dalam buku atau diskusi, harapannya adalah agar pembaca bisa melihat keseluruhan gambaran hidup dan menemukan pelajaran dari setiap kisah. Kita berharap mereka bisa merenungkan kembali permasalahan yang mereka alami dan menemukan kekuatan untuk mulai membenahi diri.
Jadi, untuk generasi muda dan milenial, ingatlah bahwa setiap masalah bisa diurai satu per satu. Ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap pengalaman, bahkan yang pahit sekalipun. Melalui pemahaman dan kesadaran, kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita dan, yang terpenting, memutus rantai negatif untuk generasi mendatang.
Salah satu pertanyaan mendasar yang bisa temukan adalah, apa saja tantangan parenting di kehidupan modern dan bagaimana refleksi diri dapat membantu orang tua menyembuhkan luka masa lalu serta membangun masa depan yang lebih baik untuk anak-anak mereka?
Jawabansementara yang bisa kamu temukan adalah soal tantangan parenting di kehidupan modern meliputi tekanan sosial dari media, kesehatan mental yang memengaruhi hubungan orang tua-anak, perubahan dinamika keluarga, keterbatasan waktu, dan pengaruh teknologi.
Dalam menghadapi tantangan ini, orang tua dapat melakukan refleksi diri untuk coba menyadari dan menyembuhkan luka masa lalu, yang memungkinkan mereka untuk memahami pengalaman pribadi dan mengembangkan empati. Dengan cara ini, mereka dapat membangun pola asuh yang lebih positif dan menjadi teladan yang lebih baik bagi anak-anak, menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan kesejahteraan emosional.
—
Artikel di atas diambil dari podcast Behind the Book dengan narasumber penulis buku PASTIKAN IKHLASMU ITU LUAS, Retno Ladyta. Yuk, tonton dan simak lebih lengkap di video berikut ini:
Keberadaan buku “Pastikan Ikhlasmu Itu Luas” yang ditulis oleh Retno LaDyta menawarkan wawasan mendalam tentang perjalanan emosi dan refleksi diri yang penuh tantangan. Dalam podcast Behind the Book, Dyta berbagi cerita pribadi dan pengalamannya yang menjadi inspirasi utama untuk menulis buku ini. Dengan latar belakang kisah nyata yang emosional, ia menulis untuk memberikan dukungan kepada mereka yang merasakan luka hati dan mengalami kesulitan dalam hubungan pertemanan, keluarga, hingga asmara.
Dyta mengakui bahwa ide untuk menulis buku ini bermula dari pengalaman-pengalaman hidup yang kompleks, termasuk perpisahan orang tua yang ia alami. Meskipun merasa terluka, ia belajar bahwa ikhlas dan menerima adalah kunci untuk menemukan ketenangan batin. Ketika kisah hidupnya mulai terasa mirip dengan pengalaman banyak perempuan lain, ia merasa didorong untuk berbagi ceritanya melalui buku ini.
Salah satu pengalaman yang membuatnya semakin bertekad adalah interaksinya dengan para pembaca yang menghubunginya lewat media sosial dan berbagi bagaimana tulisan-tulisannya membuat mereka merasa lebih baik. Dyta pun menemukan bahwa buku bisa menjadi cara untuk menemani dan menyemangati banyak orang, tanpa harus selalu berinteraksi langsung.
Proses menulis buku ini bukanlah perjalanan yang mudah bagi Dyta. Ketika bekerja sama dengan penerbit Gradien, ia mulai menyusun naskahnya dengan serius. Namun, naskah tersebut tidak hanya ditujukan sebagai sekumpulan kutipan; rekan-rekan editor menantang Dyta untuk menyelami lebih dalam perasaannya dan pengalaman hidup yang ia alami, terutama terkait isu-isu keluarga, persahabatan, dan pandangan masyarakat tentang peran perempuan. Melalui buku ini, Dyta berharap pembaca bisa lebih memahami bahwa tidak semua tekanan untuk menikah atau mengikuti ekspektasi masyarakat harus dituruti jika belum siap.
Salah satu momen penting yang diceritakan Dyta dalam podcast adalah tentang kehilangan sahabatnya. Kejadian yang berakhir tragis ini membuatnya semakin menyadari pentingnya menghargai waktu bersama orang-orang terdekat. Dyta belajar bahwa ego yang berlebihan dalam persahabatan bisa menjadi racun. Dia mengenang bagaimana selama setahun tidak saling bertegur sapa dengan sahabatnya, hingga akhirnya teman itu berpulang dalam keadaan yang tak terduga. Rasa penyesalan karena melewatkan waktu yang bisa dihabiskan bersama menyadarkannya akan pentingnya berdamai dengan ego dan melupakan pertikaian kecil dalam hubungan.
Selain kisah pribadi, buku “Pastikan Ikhlasmu Itu Luas” juga menyinggung tentang ketahanan diri dalam menghadapi berbagai tekanan, baik dari keluarga, pertemanan, maupun stigma masyarakat. Bagi Kak Dita, menyadari dan berdamai dengan masa lalu adalah langkah penting untuk melanjutkan hidup. Ia percaya bahwa luka batin sering kali berakar dari masa kecil dan lingkungan keluarga. Bila luka ini tidak disembuhkan, efeknya bisa terbawa ke dalam kehidupan dewasa, bahkan mempengaruhi cara seseorang memperlakukan orang lain, termasuk pasangan dan anak-anak mereka.
Dyta berharap buku ini dapat menginspirasi pembaca untuk lebih mengenal dan menerima diri sendiri, serta memahami bahwa keikhlasan bukan hanya soal menerima kondisi yang ada, tetapi juga merangkul proses menyembuhkan luka batin. Dengan membaca “Pastikan Ikhlasmu Itu Luas”, Dyta berharap banyak orang dapat merasakan ketenangan dan mendapatkan insight untuk lebih jujur pada diri sendiri, menghadapi permasalahan hidup, dan memupuk hubungan yang sehat dengan orang-orang di sekitar.
https://youtu.be/Svhay_hyz2w?feature=shared
Pastikan Ikhlasmu Itu Luas: Bangkit dan Sembuh Bersama Luka
Retno LaDyta , dalam buku PASTIKAN IKHLASMU ITU LUAS, mengajak pembaca untuk merenungi makna ikhlas dalam menghadapi luka dan trauma yang tak terelakkan. Melalui gaya bahasa yang reflektif dan menguatkan, LaDyta menyampaikan bahwa setiap luka yang kita bawa, baik dari keluarga, pertemanan, atau kisah asmara, pada akhirnya mengajarkan kita untuk bergantung pada diri sendiri. Buku ini mengingatkan bahwa berjuang sendiri memang berat, namun dari sanalah kekuatan ikhlas yang sebenarnya bisa lahir. Cocok untuk mereka yang sedang dalam proses pemulihan dan ingin lebih memahami arti ketenangan batin.
Yuk koleksi buku ini dan kamu bisa memperoleh di toko buku Gramedia dan toko buku Online kesayangan kamu. Ingat ya beli buku yang asli, bukan bajakan.